Sabtu, Mei 23, 2026
Beranda Bisnis Harga Sawit Bengkulu Anjlok, APKS Sebut Dampak Pernyataan Ekspor Satu Pintu

Harga Sawit Bengkulu Anjlok, APKS Sebut Dampak Pernyataan Ekspor Satu Pintu

0
28

Bengkulu – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu anjlok drastis dalam dua hari terakhir. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (APKS) Bengkulu, Edy Mashuri, menilai penurunan tajam ini dipicu respon negatif pasar terhadap pernyataan Presiden terkait ekspor crude palm oil (CPO) dan batu bara yang akan dilakukan melalui satu pintu BUMN.

Menurut Edy, harga sawit di tingkat pabrik yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.200 per kilogram kini sudah turun menjadi Rp2.400 per kilogram, bahkan ada pabrik yang membeli di angka Rp2.200. Sementara di tingkat petani, harga TBS disebut sudah “pecah” di bawah Rp2.000 per kilogram.

“Dalam satu malam tadi saja itu dua kali turun Rp500-Rp500. Jadi penyebabnya bukan masalah dolar, penyebabnya pidato presiden tanggal 20 tentang ekspor CPO dan batubara satu pintu yang diserahkan kepada BUMN,” kata Edy Mashuri, Jumat (22/5/2026).

Ia menilai kondisi ini mirip dengan saat kebijakan larangan ekspor sawit pada era Presiden Joko Widodo beberapa tahun lalu. Ketika itu, harga sawit langsung anjlok dari Rp3.700 menjadi sekitar Rp2.000 per kilogram akibat kepanikan pasar global.

Baca Juga:  PLN Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik, Berlaku Hingga 28 April 2026

“Dunia perdagangan global itu alergi dengan pemerintah, apalagi BUMN. Ekspor-impor itu maunya cepat, tepat waktu, dan birokrasi tidak berbelit-belit,” ujarnya.

Edy mengakui tujuan pemerintah memperbaiki tata kelola ekspor untuk mencegah kebocoran negara merupakan langkah baik. Namun, ia pesimis jika seluruh mekanisme ekspor dipusatkan melalui BUMN karena dikhawatirkan memicu hambatan distribusi dan pelayanan perdagangan internasional.

“Kalau nanti pelayanan tidak cepat, pembeli luar negeri bisa pindah ke negara lain. Itu yang kami takutkan, harga tambah anjlok dan petani yang paling menderita,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa sektor hulu atau petani menjadi pihak yang paling terdampak atas kebijakan tersebut. Di tengah penurunan harga sawit, biaya produksi justru terus naik, terutama harga pupuk yang melonjak tajam.

“Borate dari Rp460 ribu sekarang sudah Rp1,3 juta. Waria sudah Rp760 ribu. Jadi objek penderita kebijakan ini petani sawit,” tegasnya.

Penurunan harga juga terlihat dari pengumuman sejumlah pabrik sawit di Bengkulu dan Mukomuko pada Jumat malam. PT MMIL, PT KAS, PT GSS, dan PT KSM sama-sama menurunkan harga TBS sebesar Rp500 menjadi sekitar Rp2.100-Rp2.160 per kilogram. Sementara PT USM Mukomuko menurunkan harga Rp600 menjadi Rp1.920 per kilogram, dan PT Muara Sawit Lestari memangkas harga hingga Rp700 menjadi Rp1.880 per kilogram.

Baca Juga:  Bank Bengkulu Terapkan Efisiensi Anggaran, Karyawan Dilarang Terima Hadiah Uang

Edy khawatir kebijakan ekspor satu pintu akan menimbulkan efek “leher botol” atau bottleneck dalam proses perdagangan CPO nasional. Menurutnya, jika seluruh jalur ekspor dipusatkan pada satu sistem, potensi kemacetan distribusi akan semakin besar dan dampaknya bisa berlangsung lama terhadap harga sawit petani.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]