Bengkulu – Anggota DPD RI/MPR RI asal Bengkulu, Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., MSM, mengaku kagum dengan keunikan pakaian adat Nak Unak asal Kabupaten Kaur saat mengunjungi Museum Negeri Bengkulu, Senin (4/5/2026).
Dalam kunjungan yang disambut Kepala Museum Negeri Bengkulu Mardian Somti, jajaran museum, serta Kabag TU Balai Pelestarian Kebudayaan Bengkulu, Destita menilai corak busana Nak Unak memiliki karakter berbeda dibanding pakaian adat Bengkulu lainnya yang umumnya dipengaruhi budaya Melayu Bengkulu.
“Wah bagus ya coraknya. Bagus ini kalau dipakai di upacara kenegaraan ataupun hari besar. Juga jarang ada yang pakai, ” ujar Destita saat melihat langsung koleksi busana adat tersebut.
Destita menyoroti kekhasan visual Nak Unak yang menampilkan sulaman, manik-manik, serta aksesoris unik dengan sentuhan pengaruh kolonial, menjadikannya tampil megah sekaligus berbeda dari busana tradisional daerah lain di Provinsi Bengkulu.
“Saya promosikan deh. Nanti bakal saya pakai saat rapat di DPD, ” tutur Destita.
Kepala Museum Bengkulu melalui Hery Sukoco dari Seksi Koleksi, Konservasi, dan Preparasi menjelaskan pakaian adat Nak Unak merupakan busana tradisional khas Kabupaten Kaur yang biasa digunakan pengantin perempuan saat prosesi bersanding setelah akad nikah.
Menurut Hery, keunikan Nak Unak terlihat dari perpaduan kain Cermuk, mahkota besar, kalung glamour dengan ornamen mata uang Inggris, gelang bedering, serta detail sulaman dan manik-manik yang tidak umum ditemukan pada busana Melayu Bengkulu lainnya.
“Baju Nak Unak ini berbeda karena memiliki sulam dan manik-manik khas, ditambah pengaruh kolonial yang terlihat pada aksesoris seperti kalung glamour dan gelang,” jelas Hery.
Ia menambahkan, penggunaan busana adat lengkap Nak Unak saat ini juga dipengaruhi faktor ekonomi karena biaya penyewaan cukup tinggi, sehingga tidak semua masyarakat mampu mengenakan versi adat penuh.
“Saya belum tau apakah ada pengaruh golongan masyarakat atau memang jarang masyarakat yang tau. Apalagi secara historis adat di Kaur memiliki kesamaan dengan di Krui, provinsi Lampung, ” jelas Hery.
Museum Negeri Bengkulu sendiri menghadirkan koleksi Nak Unak sebagai representasi kekayaan budaya lokal yang unik agar generasi muda lebih mengenal identitas budaya Kabupaten Kaur sekaligus memperkuat pelestarian warisan adat Bengkulu.
Museum Negeri Bengkulu saat ini menyimpan sebanyak 6.268 koleksi benda bersejarah dan warisan budaya daerah yang mencerminkan kekayaan tradisi serta perjalanan sejarah Provinsi Bengkulu.
Ribuan koleksi tersebut meliputi pakaian adat, senjata tradisional, kain tenun, kain besurek, naskah kuno beraksara Kaganga, hingga berbagai artefak budaya lain yang menjadi bagian penting identitas masyarakat Bengkulu.
Namun, dalam enam tahun terakhir, jumlah koleksi museum tercatat belum mengalami penambahan. Kondisi ini disebabkan kendala utama dalam proses pengadaan, khususnya terkait penentuan harga benda koleksi yang akan diakuisisi.







