Bengkulu Utara – Delapan tahun lalu, Ustaz Zaki Almukarom memutuskan pulang ke kampung halamannya di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Setelah menimba ilmu agama di luar daerah, putra asli pulau terluar Indonesia itu memilih mengabdikan diri dengan mendirikan Pondok Pesantren As Salam Al Azhar di Desa Kaana agar anak-anak Enggano tidak tertinggal dalam pendidikan agama.
Pondok Pesantren As Salam Al Azhar yang berdiri pada 2018 kini menjadi tempat belajar bagi puluhan santri. Selain membekali ilmu agama, pesantren juga menyelenggarakan pendidikan formal jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Saya ingin membangun sekolah di daerah sendiri, mencerdaskan anak bangsa, dan mencetak generasi yang berakhlak. Walaupun berada di pulau, kami tidak ingin tertinggal dalam pendidikan agama,” kata Ustaz Zaki saat diwawancarai RRI, Jumat, 31 Juli 2026.
Ustaz Zaki menceritakan pedihnya perjuangan mendirikan ponpes di pulau ini. Di mana mulanya banyak penolakan yang terjadi dari berbagai pihak.
Selain itu, pembangunan hanya mengandalkan dana pribadi sehingga prosesnya berjalan lambat dan saat ini hanya berdiri dua atap bangunan yang berfungsi sebagai tempat mengajar dan kantor administrasi.
Menurut Ustaz Zaki, para santri mempelajari berbagai disiplin ilmu agama seperti nahwu, sharaf, tafsir, dan akidah akhlak. Di sisi lain, mereka juga mendapatkan pelajaran umum seperti Matematika dan Bahasa Indonesia sesuai kurikulum Kementerian Agama agar memiliki kompetensi yang setara dengan sekolah lainnya.
“Pelajaran umum tetap kami ajarkan agar anak-anak tidak tertinggal. Kami mengikuti kurikulum yang ditetapkan Kementerian Agama,” ujarnya.
Saat ini seluruh santri di Pondok Pesantren As Salam Al Azhar menempuh pendidikan secara gratis. Operasional pesantren selama ini ditopang oleh bantuan para donatur dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
“Alhamdulillah semua santri gratis. Kebutuhan makan dan operasional banyak dibantu para donatur, ada yang dari Jakarta hingga Sydney. Kami bersyukur masih banyak yang peduli,” tuturnya.
Ia menambahkan, Pondok Pesantren As Salam Al Azhar telah memiliki izin operasional, terdaftar di Kementerian Agama, serta telah terakreditasi. Dengan demikian, lulusan pesantren dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kesempatan menyampaikan berbagai kebutuhan pesantren diperoleh Ustaz Zaki saat menerima kunjungan kerja Anggota DPD RI/MPR RI, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., ke Pulau Enggano pada Sabtu, 25 Juli 2026. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan berbagai aspirasi yang menjadi kebutuhan mendesak pesantren.
Salah satu aspirasi yang disampaikan adalah seluruh tenaga pengajar di pesantren masih berstatus honorer. Karena itu, ia berharap guru swasta juga diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Harapan kami jangan sampai ada perbedaan antara guru negeri dan swasta. Guru-guru swasta juga seharusnya memiliki kesempatan yang sama mengikuti PPPK,” katanya.
Selain persoalan tenaga pendidik, pesantren juga masih kekurangan fasilitas penunjang pembelajaran. Hingga kini, pesantren belum memiliki komputer maupun perangkat pendukung pembelajaran berbasis teknologi.
“Sampai sekarang kami belum memiliki komputer dan alat pendukung mengajar. Kami berharap ada bantuan agar anak-anak santri tidak tertinggal dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Ustaz Zaki juga berharap pesantren memiliki kendaraan operasional. Selama ini setiap mengikuti kegiatan di luar, seperti pramuka, pengajian, maupun penampilan marawis, pihak pesantren harus menyewa kendaraan.
“Kalau ada kegiatan di luar kami selalu menyewa mobil. Sekali sewa bisa sekitar Rp400 ribu. Itu menjadi beban bagi pondok,” ungkapnya.
Tak hanya itu, kondisi ruang belajar juga membutuhkan perhatian karena sebagian atap seng telah bocor. Ia berharap ada bantuan agar proses belajar mengajar berlangsung lebih nyaman.
“Mudah-mudahan ada bantuan untuk memperbaiki ruang kelas yang atapnya sudah bocor. Mudah-mudahan ada pihak yang tergerak membantu demi kenyamanan anak-anak santri belajar,” katanya.
Menutup wawancara, Ustaz Zaki menegaskan komitmennya untuk terus mengabdi dan mendidik anak-anak Pulau Enggano agar memiliki akhlak mulia, ilmu agama yang kuat, serta tidak tertinggal dalam pendidikan.
“Selama kami masih diberi kesehatan, insya Allah kami akan terus mendidik anak-anak Pulau Enggano agar mereka tidak tertinggal, baik dalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan,” tuturnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Anggota DPD RI/MPR RI asal Bengkulu, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., menyatakan akan memperjuangkannya melalui kewenangan yang dimilikinya di DPD RI. Menurutnya, masyarakat di Pulau Enggano berhak memperoleh layanan pendidikan yang setara dengan daerah lain.
“Aspirasi yang disampaikan Ustaz Zaki, para dewan guru, dan santri akan kami bawa dan kami perjuangkan. Pendidikan di Pulau Enggano sebagai wilayah terluar tidak boleh tertinggal. Kita ingin anak-anak di sana mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama dengan daerah lain,” kata Senator Destita.







