BENGKULU — Ada tempat yang sering kali dinilai dari stigma. Namun, ada pula anak-anak muda yang memilih menjawab stigma itu dengan karya.
Salah satunya Muhamad Rabil Fahri, putra Kepala Curup, Kecamatan Binduriang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, yang menorehkan prestasi sebagai mahasiswa sekaligus aktivis di Universitas Bengkulu. Rabil merupakan lulusan S1 Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu dengan IPK 3,69.
Dalam momentum Wisuda Universitas Bengkulu Periode 115, namanya turut mendapat apresiasi sebagai Aktivis Berprestasi. Apresiasi tersebut dipublikasikan melalui akun resmi Universitas Bengkulu, @unibofficial.
Dari Kepala Curup, Membawa Mimpi
Berasal dari Kepala Curup menjadi bagian penting dalam perjalanan Rabil. Daerah asalnya tidak selalu dilekatkan dengan narasi positif, tetapi ia memilih tidak menjadikan stigma tersebut sebagai alasan untuk merasa rendah diri.
Sebaliknya, Rabil menjadikan stigma sebagai energi untuk membuktikan bahwa asal daerah tidak pernah menentukan batas seseorang untuk bermimpi dan berprestasi. Baginya, anak daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan memberikan dampak.
“Saya tidak pernah ingin tempat saya berasal menjadi alasan untuk membatasi mimpi. Justru dari sana saya belajar bahwa kita harus berani membuktikan bahwa anak daerah juga bisa berdiri, berkarya, dan memberikan dampak,” ujar Rabil.
Menurutnya, stigma terhadap suatu daerah tidak seharusnya diwariskan kepada generasi mudanya. Anak-anak muda dari daerah mana pun memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang apabila diberikan ruang, kepercayaan, dan keberanian untuk mengambil kesempatan.
“Kepala Curup adalah tempat saya tumbuh. Saya tidak ingin terus menjelaskan kepada orang lain tentang stigma yang melekat di sana. Saya lebih memilih menjawabnya melalui apa yang saya lakukan,” lanjutnya.
Aktif Berorganisasi, Tetap Mengejar Prestasi Akademik
Selama berkuliah di Universitas Bengkulu, Rabil aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa. Di antaranya Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, UKM IMC FISIP, UKM POMFISIP, UKM FORSEI, serta BEM FISIP KBM Universitas Bengkulu.
Ia pernah dipercaya sebagai Gubernur Mahasiswa BEM FISIP KBM Universitas Bengkulu, sebelum kemudian mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Mahasiswa BEM KBM Universitas Bengkulu 2025. Di tengah aktivitas organisasi tersebut, ia tetap mampu menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,69.
Sebagai Wakil Presiden Mahasiswa, Rabil terlibat dalam koordinasi dan pengawalan berbagai program kemahasiswaan dengan melibatkan banyak unsur organisasi mahasiswa. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi publik, manajemen program, hingga membangun kolaborasi lintas organisasi.
“Kepemimpinan bagi saya bukan tentang seberapa tinggi posisi yang kita duduki, tetapi seberapa besar tanggung jawab yang berani kita ambil dan seberapa banyak orang yang bisa merasakan manfaat dari peran tersebut.”
Dari Aktivis Kampus hingga Program Nasional
Perjalanan Rabil tidak berhenti pada aktivitas organisasi di lingkungan kampus. Ia juga berhasil mengikuti Future Leadership Camp, program nasional Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai perwakilan Universitas Bengkulu dan Bengkulu.
Kesempatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang memperluas perspektifnya tentang kepemimpinan. Ia bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan mendapatkan pengalaman mengenai kepemimpinan, kolaborasi, serta bagaimana anak muda dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat.
“Saya datang dari daerah, tetapi mimpi saya tidak boleh berhenti di daerah. Kampus memberikan saya ruang untuk belajar, organisasi memberikan saya ruang untuk bergerak, dan pengalaman nasional memberikan saya keyakinan bahwa anak daerah juga bisa mengambil peran di tingkat yang lebih luas.”
Aktivis Berdampak, Bukan Sekadar Aktivis yang Sibuk
Bagi Rabil, ukuran keberhasilan seorang aktivis bukanlah seberapa banyak organisasi yang diikuti ataupun seberapa panjang jabatan yang pernah diemban. Lebih dari itu, seorang aktivis harus mampu meninggalkan sesuatu yang bermanfaat setelah masa kepengurusannya berakhir.
Ia meyakini bahwa aktivisme harus bergerak dari sekadar ramai di ruang diskusi menjadi nyata dalam bentuk gagasan, program, kolaborasi, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena itu, pengalaman berorganisasi baginya bukan sekadar tentang jabatan, tetapi tentang proses belajar mengambil tanggung jawab.
“Saya tidak ingin dikenal hanya karena pernah memegang jabatan. Saya ingin pengalaman selama menjadi mahasiswa menjadi bekal untuk terus berbuat setelah tidak lagi menggunakan atribut mahasiswa.”
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan yang ia sampaikan dalam apresiasi Universitas Bengkulu. “Universitas Bengkulu mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Lulus bukanlah akhir, melainkan awal untuk membawa ilmu dan pengalaman agar berdampak lebih luas.”
Lulus Bukan Garis Akhir
Dengan selesainya pendidikan di Universitas Bengkulu, Rabil memasuki fase baru dalam kehidupannya. Namun, ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan.
Ia ingin membawa pengalaman akademik, organisasi, kepemimpinan, dan kegiatan sosial yang diperoleh selama di kampus ke ruang yang lebih luas. Baginya, pengalaman tersebut menjadi modal untuk terus belajar sekaligus mengambil peran di tengah masyarakat.
Ada satu pesan yang ingin terus ia bawa kepada anak-anak muda dari daerah, khususnya generasi muda Kepala Curup dan Bengkulu.
“Jangan biarkan orang lain menentukan masa depan kita hanya berdasarkan tempat kita dilahirkan. Kita mungkin tidak bisa memilih dari mana kita memulai, tetapi kita bisa memilih sejauh mana kita melangkah.”
Rabil berharap kisahnya tidak berhenti sebagai cerita tentang seorang mahasiswa yang mendapatkan penghargaan. Lebih jauh, ia ingin pencapaian tersebut menjadi pesan bahwa stigma dapat dilawan, keterbatasan dapat diterobos, dan mimpi anak daerah layak diperjuangkan setinggi-tingginya.
Dari Kepala Curup, ia berangkat membawa mimpi. Di Universitas Bengkulu, ia belajar mengambil peran, dan setelah lulus, ia ingin pulang membawa dampak.
Tentang Muhamad Rabil Fahri
Muhamad Rabil Fahri merupakan lulusan S1 Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu dengan IPK 3,69. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan pernah dipercaya sebagai Gubernur Mahasiswa BEM FISIP KBM UNIB serta Wakil Presiden Mahasiswa BEM KBM Universitas Bengkulu 2025.
Ia memiliki pengalaman dalam bidang kepemimpinan, komunikasi publik, pengelolaan program, riset, digital marketing, dan kegiatan sosial. Ia juga merupakan peserta Future Leadership Camp, program nasional Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai perwakilan Universitas Bengkulu dan Bengkulu.







