Bengkulu Selatan — Ketegangan antara petani Pino Raya dan pihak PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) berujung pada tindakan kekerasan bersenjataa, menyebabkan empat orang petani terteembak dan satu orang lainnya mengalami luka serius pada Senin siang (24/11/2025). Peristiwa ini terekam dalam video warga dan memicu protes luas dari masyarakat.
Insiden bermula sekitar pukul 10.00 WIB, ketika petani kembali mendapati alat berat bulldozer milik PT ABS masuk ke lahan petani dan menghancurkan tanaman warga untuk ketiga kalinya. Teguran dari petani tidak diindahkan, sehingga situasi memanas.
Pada 10.45 WIB, keributan terjadi setelah pihak perusahaan bersikeras tetap melakukan aktivitas. Ketegangan meningkat hingga massa petani mengepung lokasi sekitar pukul 12.00 WIB.
Ketika situasi semakin kritis, sekitar 12.45 WIB, seorang petugas keamanan perusahaan bernama Ricky melepaskan teembakan dan mengenai seorang petani bernama Buyung, tepat di bagian dada. Warga yang menyaksikan insiden tersebut sontak panik.
Bukannya menghentikan serangan, pelaku justru melarikan diri sambil mennembak secara membabi buta ke arah belakang, sehingga melukai empat petani lainnya, Linsurman — tertembbak di bagian lutut, Edi Hermanto —terteembak di paha, Santo — tertembak di bagian rusuk bawah ketiak, Suhardin — tertemmbak di betis.
Pada pukul 13.00 WIB, warga berusaha mengejar pelaku sambil mengevakuasi korban. Beberapa warga berhasil mengamankan lokasi dan senjjata api yang digunakan pelaku, sementara lainnya membawa para korban ke rumah sakit sekitar 13.15 WIB.
Rekaman video yang beredar menunjukkan kepanikan warga, teriakan meminta pertolongan, serta proses evakuasi korban yang terluka dengan kondisi memprihatinkan.
Hingga kini, masyarakat Pino Raya menuntut penegakan hukum tegas terhadap pelaku dan meminta pemerintah daerah serta kepolisian mengusut tuntas dugaan penggunaan senjaata api secara ilegal dalam konflik agraria tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa tindakan kekerasan bersenjatta terhadap warga tidak dapat diterima dan mencerminkan kegagalan penyelesaian konflik lahan yang telah berlangsung lama.






