Minggu, September 13, 2026
Beranda Bengkulu PT ALKO Sumatera Kopi Ekspor 19,2 Ton Kopi Bengkulu

PT ALKO Sumatera Kopi Ekspor 19,2 Ton Kopi Bengkulu

0
5
Sebanyak 1,92 ton biji kopi robusta dengan branding "Ngopi Bengkulu" dilepas ke Italia, menandai babak baru dalam perjalanan komoditas unggulan daerah menuju panggung dunia.

Kepahiang — Kopi Bengkulu mulai menembus pasar Italia melalui ekspor perdana sebanyak 19,2 ton dengan nilai sekitar 71 ribu dolar AS atau setara Rp1,24 miliar. Pelepasan ekspor dilakukan di Halaman Kantor Bupati Kepahiang oleh Wakil Gubernur Bengkulu Mian, Senin 7 September 2026.

Ekspor tersebut diinisiasi PT Alko Sumatera Kopi dengan melibatkan petani dari Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong. Komoditas kopi dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, namun tetap tercatat sebagai ekspor Bengkulu berdasarkan Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal.

CEO PT Alko Sumatera Kopi Suryono mengatakan perusahaan membuka kantor cabang di Desa Belitar untuk memperkuat pendampingan petani sekaligus memastikan kualitas kopi sesuai persyaratan pasar internasional. Salah satu fokus utama kantor tersebut adalah melakukan quality control terhadap hasil panen sebelum dikirim untuk kebutuhan ekspor.

“Perusahaan kami saat ini membuka cabang di Desa Belitar untuk melakukan quality control. Agar biji kopi Bengkulu bisa masuk standar ekspor,” ujar Suryono.

Menurut Suryono, potensi produksi kopi di Kepahiang cukup besar, tetapi sebagian hasil panen belum memenuhi standar yang dibutuhkan pasar ekspor. Kondisi tersebut mendorong perusahaan membangun ekosistem pendampingan petani, termasuk melalui pembentukan koperasi di Desa Belitar.

Baca Juga:  Tabligh Akbar Peduli Sumatera: Rhoma Irama Ajak Warga Bengkulu Berdoa Bersama

“Selama ini persoalan di Kabupaten Kepahiang, biji kopi banyak tetapi tidak masuk standar ekspor. Belum ada lokal champion yang menjadi pelaku eksportir dengan standar ekspor,” katanya.

Pendampingan dilakukan mulai dari proses budidaya hingga pengolahan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas. Suryono mengatakan proses pemenuhan standar tersebut membutuhkan waktu dan seleksi, bahkan pihaknya memerlukan hampir tiga bulan untuk memastikan kualitas kopi petani sesuai ketentuan.

Kopi yang dikirim ke Italia merupakan grade 1 dan telah memenuhi standar pasar tujuan. Meski permintaan dari Italia cukup besar, pengiriman dilakukan secara bertahap agar kapasitas petani dalam menghasilkan kopi sesuai standar ekspor dapat terus ditingkatkan.

“Kualitas biji kopi yang diekspor ini adalah grade 1 dan ada standar SNI untuk pasar di Italia. Sebenarnya permintaan lumayan, tetapi kita perlu bertahap agar biji kopi yang dihasilkan petani memenuhi standar,” jelas Suryono.

Selain kualitas fisik biji kopi, pasar Eropa juga mensyaratkan keterlacakan atau traceability. Setiap komoditas harus dapat ditelusuri asalnya hingga lokasi kebun untuk memastikan kopi tidak berasal dari kawasan yang berkaitan dengan deforestasi.

Baca Juga:  Buka Bersama Tim Pemenangan, Destita : Tetap Berkolaborasi Bangun Bengkulu

Suryono mengatakan ketentuan tersebut berkaitan dengan penerapan EU Deforestation Regulation (EUDR) di pasar Uni Eropa. Karena itu, asal-usul kebun harus jelas dan dapat dibuktikan, termasuk memastikan komoditas tidak berasal dari taman nasional maupun kawasan hutan lindung.

“EUDR itu mengharuskan kopinya harus jelas berasal dari daerah mana, kebunnya dari mana. Tidak terindikasi di area taman nasional atau kawasan hutan lindung. Kalau terindikasi itu dari hutan lindung, maka otomatis ditolak,” kata dia.

Untuk memenuhi kebutuhan pengiriman perdana tersebut, PT Alko Sumatera Kopi melibatkan empat kelompok tani dari tiga kabupaten. Kopi yang dikumpulkan dari petani kemudian melalui proses pengawasan dan seleksi sebelum dikirim ke pasar Italia.

Total pengiriman mencapai 19,2 ton dengan nilai sekitar 71 ribu dolar AS atau Rp1,24 miliar. Meski jalur pengiriman menggunakan Pelabuhan Tanjung Priok, komoditas tersebut tetap diakui sebagai ekspor Bengkulu karena dilengkapi Certificate of Origin yang mencantumkan Bengkulu sebagai daerah asal.

“Pengiriman lewat Pelabuhan Tanjung Priok, tetapi tetap diakui sebagai ekspor Bengkulu. Ada Certificate of Origin,” kata Suryono.

Baca Juga:  Harkitnas ke-117, Wujudkan Kesejahteraan Sosial melalui MBG

[wpforms id="149" title="true" description="true"]