Minggu, Juli 5, 2026
Beranda Kota Bengkulu Tergerus Transportasi Online, Angkot di Kota Bengkulu Kian Kehilangan Penumpang

Tergerus Transportasi Online, Angkot di Kota Bengkulu Kian Kehilangan Penumpang

0
6

BENGKULU – Keberadaan angkutan kota (angkot) di Kota Bengkulu semakin terancam. Perubahan pola mobilitas masyarakat, meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi, serta berkembangnya layanan transportasi berbasis aplikasi membuat jumlah penumpang angkot terus menurun. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penghasilan para sopir yang kini semakin sulit bertahan.

Edwan (67), sopir angkot yang telah beroperasi sejak 1998, mengaku penurunan penumpang terjadi sangat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pelajar yang dulu menjadi pelanggan tetap kini lebih banyak menggunakan sepeda motor pribadi, sementara masyarakat umum beralih ke transportasi online yang dianggap lebih praktis.

“Menurut saya, angkot sebentar lagi akan hilang dari jalanan. Ya, paling satu tahun lagi usianya. Sekarang sudah tidak ada lagi di jam-jam tertentu yang laku. Bahkan pernah seharian tidak mendapatkan penumpang,” ujar Edwan saat ditemui di kawasan Pasar Panorama, Jumat (3/7/2026).

Untuk tetap memperoleh penghasilan, Edwan kini mengandalkan jasa sewa atau charter bagi rombongan pelajar yang sesekali menggunakan angkot untuk kegiatan tertentu, seperti berenang. Namun, pekerjaan tersebut hanya datang satu hingga dua kali dalam sebulan sehingga belum mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga:  Nekat Rusak Pohon di Pantai Panjang, Pelaku Usaha Terancam Pidana dan Denda Miliaran Rupiah

Kondisi serupa juga dialami Ujang Sukino (64), yang telah menjadi sopir angkot selama 11 tahun. Ia menilai selain kehadiran transportasi digital, perubahan pusat aktivitas ekonomi di Kota Bengkulu turut mengurangi jumlah penumpang. Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih berbelanja di pasar-pasar yang berada dekat permukiman sehingga tidak lagi bergantung pada angkot.

“Dulu pusat keramaian ada di Pasar Panorama dan Pasar Minggu. Sekarang hampir setiap kecamatan sudah memiliki pasar sendiri, jadi warga tidak perlu naik angkot ke pusat kota,” katanya.

Akibat perubahan tersebut, pendapatan yang diperoleh Ujang kini rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari atau kurang dari Rp100 ribu setelah dipotong biaya operasional. Bahkan, momen yang sebelumnya menjadi andalan seperti awal bulan maupun Festival Tabut tidak lagi mampu meningkatkan jumlah penumpang secara signifikan.

Di usia yang tidak lagi muda, Edwan dan Ujang mengaku sulit mencari pekerjaan lain. Mereka memilih tetap mengemudikan angkot milik sendiri meski pendapatan terus menurun. Keduanya pun mengaku hanya bisa menerima kenyataan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah wajah transportasi perkotaan.

Baca Juga:  Bapenda Bengkulu Terapkan Strategi “Jemput Bola” Awasi Pajak Usaha

“Harapan ke depan sudah tidak ada lagi. Sekarang zaman sudah maju, pasti ada yang menjadi korban perubahan teknologi. Kalau bisa kembali seperti dulu tentu kami ingin, tetapi sekarang tinggal menerima keadaan,” tutur Ujang.

Sepinya angkot di Kota Bengkulu menjadi gambaran perubahan kebutuhan transportasi masyarakat. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi, keberlangsungan angkutan umum konvensional semakin menghadapi tantangan besar. (Shabrina)

[wpforms id="149" title="true" description="true"]