Bengkulu – Menjelang Musim Kemarau 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Bengkulu meningkatkan upaya antisipasi melalui diseminasi informasi iklim kepada sejumlah pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan guna memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi potensi dampak musim kering.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin (6/4/2026) melalui kunjungan koordinasi ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Balai Riset dan Standardisasi Mutu Pertanian (BRMP) Provinsi Bengkulu.
Pada kunjungan ke Kantor BPBD Provinsi Bengkulu, rombongan BMKG disambut oleh Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD, Khristian Hermansyah. Dalam pertemuan itu, BMKG memaparkan kondisi iklim global terkini, prakiraan Musim Kemarau 2026, serta potensi dampak yang perlu diantisipasi.
Informasi tersebut menjadi acuan penting bagi BPBD dalam merumuskan strategi kesiapsiagaan, khususnya menghadapi risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan kualitas udara, hingga ancaman hidrometeorologi lainnya.
Diseminasi kemudian dilanjutkan ke Kantor BRMP Provinsi Bengkulu dan diterima oleh Kepala BRMP, Dr. Shannora Yuliasari. Dalam kesempatan itu, BRMP turut memfasilitasi sosialisasi secara daring melalui Zoom Meeting yang diikuti oleh jajaran Dinas Pertanian serta para penyuluh pertanian lapangan.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan informasi iklim tidak hanya berhenti di tingkat instansi, tetapi juga tersampaikan langsung kepada petani sebagai pengguna utama, sehingga dapat dimanfaatkan dalam perencanaan kegiatan pertanian.
BMKG Bengkulu juga menyampaikan sejumlah prakiraan penting terkait Musim Kemarau 2026. Indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) diperkirakan berada pada fase netral hingga pertengahan tahun, dengan potensi berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap dalam kondisi netral hingga Juni 2026.
Awal musim kemarau diperkirakan terjadi pada akhir Mei 2026, dengan kecenderungan lebih awal dari biasanya. Sifat hujan diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.
Di sektor pertanian, informasi ini menjadi dasar penting dalam menentukan pola dan jadwal tanam guna meminimalkan risiko gagal panen. Sementara bagi sektor kelautan dan perikanan, prakiraan cuaca menjadi panduan bagi nelayan dalam merencanakan aktivitas melaut secara lebih aman.
Melalui kegiatan ini, BMKG Provinsi Bengkulu menegaskan komitmennya dalam memperluas penyebaran informasi iklim secara masif dan tepat sasaran. Penguatan koordinasi lintas sektor serta peningkatan literasi iklim di masyarakat diharapkan mampu membangun ketahanan bersama dalam menghadapi Musim Kemarau 2026.







