Bengkulu — Kinerja ekspor Provinsi Bengkulu pada Juli 2026 menunjukkan pergerakan yang cukup tajam. Nilai ekspor seluruh golongan barang melonjak 251,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan tersebut belum menunjukkan bahwa seluruh sektor ekspor Bengkulu telah pulih. Pertumbuhan Juli terutama ditopang sektor pertambangan, sementara industri pengolahan dan sektor pertanian, kehutanan, serta perikanan masih mencatat penurunan secara tahunan.
Data tersebut tercatat dalam Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Bengkulu Nomor 56/09/17/Th. XXVIII yang dirilis pada 1 September 2026. Laporan tersebut memuat perkembangan ekspor dan impor Bengkulu untuk periode Juli 2026.
Secara tahunan, ekspor sektor pertambangan dan lainnya menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan dengan kenaikan 359,37 persen dibandingkan Juli 2025. Sebaliknya, ekspor industri pengolahan justru anjlok 88,17 persen dan sektor pertanian, kehutanan, serta perikanan turun 28,66 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan lonjakan ekspor Bengkulu pada Juli belum terjadi secara merata. Kinerja ekspor masih sangat bergantung pada pergerakan komoditas dari sektor tertentu, khususnya pertambangan.
Jika dilihat secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026, tantangan ekspor Bengkulu masih terlihat cukup besar. Seluruh ekspor pada periode tersebut berasal dari sektor nonmigas, dengan industri pengolahan menjadi sektor yang mengalami tekanan paling dalam.
Ekspor industri pengolahan sepanjang Januari–Juli 2026 tercatat turun 91,01 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sejumlah kelompok barang bahkan mengalami penurunan hingga 100 persen.
Penurunan tersebut antara lain terjadi pada berbagai barang hasil industri, buah-buahan, olahan tepung, plastik, barang dari plastik dan sejumlah produk industri pengolahan lainnya. Ekspor karet dan barang dari karet juga merosot 96,95 persen.
Sementara itu, ekspor pakaian dan aksesorinya yang berbahan rajutan turun 92,81 persen. Ekspor piranti lunak, barang digital dan barang kiriman juga mengalami penurunan sebesar 38,58 persen.
Tekanan serupa terjadi pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Secara kumulatif, ekspor sektor tersebut turun 39,41 persen dibandingkan Januari–Juli 2025.
Penurunan terbesar antara lain terjadi pada ekspor binatang hidup berupa serangga yang anjlok 98,92 persen. Ekspor biji dan buah yang mengandung minyak turun 60,54 persen, sedangkan ikan, krustasea dan moluska turun 57,09 persen.
Sektor pertambangan dan lainnya relatif lebih mampu menahan tekanan dibandingkan dua sektor tersebut. Meski secara kumulatif tetap mengalami penurunan, angkanya tercatat lebih kecil, yakni 18,95 persen dibandingkan Januari–Juli 2025.
Penurunan pada sektor pertambangan terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral atau batubara. Ekspor batubara sepanjang Januari–Juli 2026 tercatat turun 18,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berbeda dengan perbandingan tahunan, kinerja ekspor pada Juli 2026 justru meningkat tajam dibandingkan Juni 2026. Ekspor industri pengolahan melonjak 24.318,26 persen secara bulanan, sementara sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh 770,21 persen.
Sektor pertambangan dan lainnya juga mengalami pertumbuhan bulanan, meski jauh lebih rendah, yakni sebesar 9,05 persen. Lonjakan tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekspor dari bulan sebelumnya.
Namun, angka pertumbuhan bulanan yang sangat tinggi perlu dilihat secara proporsional. Persentase tersebut dapat dipengaruhi oleh rendahnya nilai ekspor pada bulan sebelumnya, sehingga kenaikan dalam nominal tertentu menghasilkan pertumbuhan yang sangat besar.
Karena itu, data tahunan dan kumulatif Januari–Juli memberikan gambaran yang berbeda. Lonjakan ekspor pada Juli menjadi sinyal positif dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk menunjukkan pemulihan menyeluruh terhadap seluruh sektor ekspor Bengkulu.
Hingga tujuh bulan pertama 2026, industri pengolahan masih menghadapi kontraksi paling dalam, sementara sektor pertanian, kehutanan dan perikanan juga belum kembali ke posisi tahun sebelumnya. Di sisi lain, pertambangan menjadi sektor yang paling menonjol dalam mendorong lonjakan ekspor pada Juli.
Pergerakan tersebut menunjukkan struktur ekspor Bengkulu masih belum merata. Kinerja hingga akhir 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan masing-masing sektor mempertahankan pertumbuhan sekaligus membalikkan tren penurunan yang masih terjadi secara kumulatif.







