Bengkulu — Pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting pada 2026 dengan mengutamakan kualitas intervensi, penguatan tata kelola, serta penggunaan data dalam pelaksanaan program. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan stunting berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan di setiap daerah.
Penguatan program tersebut menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Sumatera di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Kegiatan yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) ini mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta kabupaten dan kota se-Sumatera.
Pembahasan dalam rapat mencakup penguatan konvergensi intervensi bagi kelompok sasaran prioritas, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita usia 0–59 bulan. Selain itu, forum membahas advokasi kebijakan Insentif Fiskal 2026, integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi sasaran 3B, serta penyusunan rencana tindak lanjut yang konkret dan terukur.
Kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid dengan melibatkan kepala daerah, Bappeda atau Bapperida, Dinas Kesehatan, Dinas PMD/Dukcapil, serta organisasi perangkat daerah terkait dari wilayah Sumatera. Forum ini menjadi bagian dari upaya menyamakan kebijakan dan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan stunting.
Wakil Wali Kota Bengkulu Ronny PL Tobing selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Bengkulu mengikuti rapat tersebut secara daring dari Monitoring Center Diskominfo, Kamis (27/8/2026). Ia didampingi Kepala DP3AP2KB Rosminiarty, Kepala Dinas Kesehatan Nelli Hartati, Kepala Dinas Kominfo, serta jajaran OPD terkait.
Ronny mengatakan Pemkot Bengkulu berkomitmen memperkuat penanganan anak yang berisiko mengalami stunting. Ia berharap intervensi yang dilakukan dapat menurunkan angka stunting sekaligus mendukung target Kota Bengkulu menuju wilayah bebas stunting.
“Ya, hari ini ada zoom meeting dengan Pemerintah Pusat bahwasanya terkait stunting ini se-Indonesia dan kita Bengkulu, mohon doanya agar supaya anak-anak yang risiko stunting itu tertangani, menurun ataupun bisa habis,” ujar Ronny.
Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk masyarakat, agar program pencegahan dan pemulihan dapat berjalan secara optimal. Pemerintah Kota Bengkulu juga akan terus mendorong penanganan terhadap anak-anak yang memiliki risiko stunting.
“Mohon doanya agar supaya tetap Pemerintah Kota Bengkulu semangat untuk melakukan penanganan ataupun penindakan anak-anak yang memang risiko stunting-nya itu ada,” katanya. Ronny menegaskan target yang ingin dicapai Pemkot Bengkulu pada 2026 adalah penurunan kasus hingga menuju **zero stunting**.







