Bengkulu – Langit Bengkulu seolah memendam pesan yang tak terucap. Di balik keindahan pesisirnya, tersimpan ancaman yang setiap saat bisa mengguncang—sebuah kenyataan pahit karena wilayah ini berada di jalur cincin api dunia, Ring of Fire.
Di Sabtu mendung, banyak korban berjatuhan dan terbaring lemas setelah menjadi korban mega gempa-tsunami. Dengan sigap, pemerintah terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, hingga satuan penyelamat bergotong royong menyelamatkan warga pesisir dalam simulasi epik di Pantai Malabero hingga Pantai Zakat.
Kesadaran akan ancaman itu kini tak lagi sekadar wacana. Ia menjelma menjadi gerakan nyata.
Dengan keseriusan yang nyaris menyerupai situasi darurat sesungguhnya, jajaran TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga elemen masyarakat bersatu dalam sebuah latihan besar kesiapsiagaan bencana. Fokusnya jelas: menghadapi kemungkinan terburuk—gempa bumi dan tsunami yang bisa datang tanpa aba-aba.
Di bawah komando Mohamad Naudi Nurdika, Dankodiklat TNI, latihan ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah upaya menyatukan irama, menyelaraskan langkah, dan mengikis sekat antarinstansi agar respons di saat genting tak lagi kaku, melainkan cepat, tepat, dan terkoordinasi.
“Outcome besarnya adalah masyarakat diharapkan sadar bencana,” tegasnya dengan nada penuh penekanan. “Mereka harus mampu setidaknya menyelamatkan diri sendiri—dan bila mungkin, keluarga serta lingkungan di sekitarnya.”
Latihan ini masuk dalam kategori Operasi Militer Selain Perang (OMSP), sebuah misi kemanusiaan yang menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama. Di sinilah kekuatan militer berpadu dengan kepedulian sipil, membentuk barisan pertahanan terhadap amukan alam.
Pemerintah Kota Bengkulu pun tak tinggal diam. Wali Kota Dedy Wahyudi bersama Pj Sekda Medy Pebriansyah hadir langsung, menyampaikan apresiasi atas peran strategis TNI dalam merancang peta peran yang jelas dan terukur. Dalam situasi krisis, tak boleh ada kebingungan—semua harus tahu perannya.
“Kita berada di area rawan,” ujar Dedy dengan nada serius. “Pembagian peran itu penting. Siapa berbuat apa. TNI, BPBD, Kota, dan Provinsi harus selaras.”
Namun langkah ini belum berhenti. Sebuah rencana besar telah disiapkan: simulasi bencana skala luas pada akhir 2026. Bukan lagi terbatas pada instansi, tapi melibatkan masyarakat secara langsung—terutama anak-anak sekolah, generasi yang harus dibekali sejak dini tentang cara bertahan hidup saat bumi berguncang.
Mereka akan diajarkan mengenali jalur evakuasi, memahami titik kumpul aman, dan bertindak cepat saat detik-detik menentukan tiba. Ini bukan sekadar latihan—ini adalah investasi keselamatan masa depan.
Di tengah segala upaya itu, satu hal tetap menjadi harapan bersama. Di balik strategi, simulasi, dan koordinasi, terselip doa yang tak pernah putus: semoga Bengkulu tetap aman, dijauhkan dari bencana yang bisa mengubah segalanya dalam sekejap.







