Kamis, Maret 19, 2026
Beranda Destita Khairilisani Senator Destita Dukung Bhumi Swarnadwipa Lestarikan Budaya Bengkulu Lewat Medsos

Senator Destita Dukung Bhumi Swarnadwipa Lestarikan Budaya Bengkulu Lewat Medsos

0
12
Senator Apt Destita Khairilisani, S.Farm., MSM.

Bengkulu – Senator Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., MSM menyatakan dukungannya terhadap peran pemuda Bengkulu yang berinisiatif melestarikan budaya daerah melalui media sosial. Menurutnya, kreativitas generasi muda seperti yang dilakukan komunitas Bhumi Swarnadwipa patut diapresiasi dan didukung penuh, bahkan siap untuk dikolaborasikan dengan program pemerintah.

“Saya sangat mengapresiasi langkah anak-anak muda Bengkulu dalam melestarikan budaya. Media sosial adalah sarana efektif untuk memperkenalkan identitas daerah,” ujar Apoteker Lulusan Universitas Indonesia ini.

Destita menegaskan suara anak muda seperti Muhamad Daffa Tisyahri Putra, Inisiator Bhumi Swarnadwipa, perlu mendapat dukungan. Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci agar budaya Bengkulu tidak hanya dikenal di dalam daerah, tetapi juga di tingkat nasional maupun internasional.

“Anak muda sudah membuktikan perannya, kini tugas kita semua adalah merangkul dan mendukung mereka. Dengan kolaborasi, budaya Bengkulu bisa semakin dikenal luas,” tegas Destita.

Ia menegaskan, promosi budaya lewat kreativitas pemuda bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang pariwisata dan menggerakkan ekonomi kreatif daerah. Kedepan Anggota Komite III ini siap berkolaborasi bersama mempromosikan maupun mengedukasi masyarakat terkait pelestarian budaya.

“Pemerintah dan para pemangku kepentingan harus hadir, memberikan dukungan maupun ruang kolaborasi, supaya gerakan ini tidak hanya sebatas inisiatif komunitas, tetapi menjadi bagian dari strategi besar promosi budaya Bengkulu,” ujarnya.

Daffa mengatakan komunitas ini aktif mengangkat sejarah, tradisi, dan budaya Bengkulu dalam bentuk konten digital di media sosial.

Daffa mengungkapkan, ide membentuk Bhumi Swarnadwipa lahir dari keresahan anak muda ketika mengikuti lomba di luar daerah. Saat memperkenalkan diri dari Bengkulu, banyak orang tidak mengetahui letak provinsi ini.

“Bahkan ada yang mengira Bengkulu itu di Kalimantan atau Sulawesi. Dari situlah muncul kesadaran, bagaimana kita mau promosikan Bengkulu kalau kita sendiri belum mengenal identitas kita?” ungkap Daffa.

Dengan anggota tim kecil berjumlah 5–10 orang, Bhumi Swarnadwipa menggarap konten melalui riset literatur, buku, hingga wawancara dengan masyarakat lokal. Mereka ingin memastikan setiap unggahan tidak menyesatkan, tetapi memiliki dasar yang jelas.

Kini, komunitas tersebut tengah menyiapkan format konten baru berupa video bernarasi untuk menyesuaikan tren digital anak muda di TikTok dan platform lain.

Meski demikian, Daffa mengakui pergerakan mereka masih terbatas karena minim dukungan dari pemerintah. Ia berharap ada kolaborasi nyata agar promosi budaya Bengkulu semakin kuat.

“Kalau hanya bergerak sendiri tentu banyak keterbatasan. Kami berharap ada inisiatif dari pemerintah, misalnya kerja sama dengan balai atau lembaga terkait untuk membuat konten budaya bersama,” kata Daffa.

Salah satu fokus Bhumi Swarnadwipa adalah memperkuat promosi Tabut, warisan budaya takbenda yang rutin digelar tiap tahun. Menurut Daffa, promosi Tabut masih perlu ditingkatkan agar tidak kalah gaung dibanding penyelenggaraan di daerah lain.

“Promosi selama ini baru dilakukan beberapa hari menjelang acara. Padahal kalau targetnya wisatawan luar, seharusnya dipublikasikan jauh-jauh hari agar mereka bisa mempersiapkan perjalanan,” jelasnya.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]