Rabu, Agustus 26, 2026
Beranda Seluma Pekebun Sawit Seluma Didorong Padukan Pengalaman dengan Data

Pekebun Sawit Seluma Didorong Padukan Pengalaman dengan Data

0
2
Pelatihan Teknis Budidaya serta Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 160 peserta asal Kabupaten Seluma, Senin (24/8/2026).

Seluma – Pengalaman menjadi modal penting bagi pekebun kelapa sawit dalam mengelola kebun, tetapi tuntutan produktivitas dan kualitas membuat pengalaman saja tidak lagi cukup. Pekebun perlu menggabungkan pengalaman dengan data, ilmu pengetahuan, dan standar teknis agar pengambilan keputusan tidak hanya mengandalkan kebiasaan.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, saat menutup Pelatihan Teknis Budidaya serta Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 160 peserta asal Kabupaten Seluma, Senin (24/8/2026). Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.

Pelatihan berlangsung dalam enam hari dan dibagi menjadi tiga kelas Teknis Budidaya dengan 100 peserta serta dua kelas Panen dan Pascapanen yang diikuti 60 peserta. Materi pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam mengelola tanaman hingga menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang berkualitas.

“Pengalaman saja tidak cukup untuk era saat ini. Pengalaman itu harus juga melihat data, melihat rujukan ilmu,” kata Dr. Idum.

Baca Juga:  Seluma Mulai Gelar Rangkaian MTQ XXXVII Provinsi Bengkulu 2026

Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengalaman yang dimiliki pekebun. Pengetahuan teknis justru diperlukan untuk memperkuat pengalaman sehingga praktik di kebun dapat diukur, dievaluasi, dan diperbaiki.

Salah satu metode yang digunakan dalam pelatihan adalah field trip atau kunjungan lapangan. Peserta diajak melihat kondisi kebun secara langsung, mempelajari praktik pengelolaan, sekaligus membandingkan kualitas TBS dengan standar yang diterapkan.

Dr. Idum mengatakan kegiatan tersebut penting agar pekebun memiliki pembanding terhadap kondisi kebunnya sendiri. Menurutnya, pekebun terkadang menilai pengelolaan kebunnya sudah baik, meskipun masih terdapat sejumlah aspek yang dapat ditingkatkan.

“Kadang kita melihat diri kita yang paling bagus, buah kita itu paling bagus. Tetapi rendemennya kok seperti ini terus,” ujarnya.

Ia menegaskan peningkatan rendemen tidak hanya ditentukan saat TBS tiba di pabrik, tetapi harus dimulai sejak proses budidaya dan panen di kebun. Penanganan TBS setelah panen juga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas dan mendukung hasil produksi.

Pelatihan juga mendorong pekebun mengubah pola pengambilan keputusan dengan menggunakan kondisi tanaman, kebutuhan hara, target produksi, dan kondisi lapangan sebagai pertimbangan. Dengan pendekatan tersebut, tindakan di kebun diharapkan lebih tepat dan tidak sekadar mengikuti kebiasaan yang dilakukan sebelumnya.

Baca Juga:  Kodim 0425/Seluma Tanam Pohon Gaharu, Jadi Kado Hijau HUT Seluma ke-23

Dalam pemupukan, misalnya, kebutuhan tanaman harus disesuaikan dengan target produksi yang ingin dicapai. Pemupukan tidak hanya berkaitan dengan jumlah pupuk yang diberikan, tetapi juga ketepatan berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi kebun.

“Bapak pengen produksinya bagus tapi pelit nggak kasih pupuk. Tanaman itu bisa berbicara sebetulnya kepada kita,” kata Dr. Idum.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta selama pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Ilmu tersebut perlu diterapkan langsung di kebun dan menjadi bagian dari evaluasi pengelolaan tanaman secara berkelanjutan.

“Ilmu akan terasa lebih keren kalau dipraktikkan sepenuh hati,” ujarnya.

Bagi pekebun di Kabupaten Seluma, peningkatan kapasitas tidak selalu harus dilakukan dengan menambah luas lahan maupun input produksi. Perbaikan dapat dimulai dari pengelolaan kebun yang lebih terukur melalui pemanfaatan data, pemahaman kondisi tanaman, penerapan standar teknis, dan pembelajaran dari kebun yang memiliki hasil lebih baik.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]