
Bengkulu – Anggota DPD RI/MPR RI asal Bengkulu, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., memberikan motivasi kepada mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Bengkulu agar berani bermimpi, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah dalam meraih masa depan. Pesan tersebut disampaikan Destita saat menjadi pemateri dalam rangkaian Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB), Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), dan kegiatan lainnya di UT Bengkulu, Sabtu (8/8/2026).
Di hadapan mahasiswa baru, Senator Destita membagikan pengalaman perjalanan pendidikannya hingga berkarier di sejumlah perusahaan internasional sebelum akhirnya dipercaya menjadi wakil Provinsi Bengkulu di DPD RI. Ia mengatakan pengalaman bekerja dengan baik dan membangun jejaring menjadi salah satu bekal penting yang membuka kesempatan baru dalam perjalanan kariernya.
Apoteker Destita menceritakan pernah bekerja di perusahaan farmasi Jepang, Mitsubishi Tanabe Pharma, selama sekitar 13 tahun setelah sebelumnya terlibat dalam proyek Japan International Cooperation Agency (JICA). Selama bekerja, ia dipercaya tidak hanya menangani Indonesia, tetapi juga sejumlah negara di kawasan ASEAN.
Menurut Anggota Komite III DPD RI itu, pengalaman tersebut menunjukkan kerja keras dan reputasi yang baik dapat membuat seseorang justru dicari oleh pemberi kerja. Karena itu, ia mendorong mahasiswa baru untuk tidak sekadar mengejar pekerjaan, tetapi membangun kemampuan dan rekam jejak sejak dini agar memiliki nilai lebih di dunia profesional.
“Kalau kita bekerja dengan baik, orang itu yang akan mencari. Jadi adik-adik jangan hanya berpikir bagaimana mencari pekerjaan, tetapi bagaimana agar kita dicari oleh pemberi kerja,” kata Destita.
Ketua Pengda Tenaga Pembangunan Sriwijaya itu juga mengingatkan mahasiswa agar tidak meremehkan langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini. Menurutnya, kebiasaan disiplin, belajar, bekerja keras, membangun relasi, dan terus meningkatkan kemampuan dapat menjadi bekal penting yang hasilnya mungkin baru terlihat di masa mendatang.
Ketua Umum Percasi Bengkulu itu kemudian membagikan pengalamannya ketika memutuskan kembali ke tanah kelahiran orang tuanya dan mengabdi untuk Provinsi Bengkulu. Meski tidak lahir, bersekolah, maupun membangun karier di Bengkulu, ia memilih datang dengan membawa pengalaman yang diperoleh selama berkarier di tingkat nasional dan internasional.
Ia mencontohkan perjuangannya mengenalkan diri kepada masyarakat Bengkulu dengan mendatangi sekitar 1.000 desa dalam waktu sekitar tiga bulan. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan karena ia menyadari bahwa keinginan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat harus diikuti dengan usaha nyata.
“Ketika kita sudah memutuskan untuk menjadi sesuatu, kita harus berjuang. Kita harus bekerja keras untuk meraih apa yang kita inginkan, setelah itu kita berdoa dan bertawakal,” ujar Senator Destita.
Destita juga mengajak mahasiswa untuk menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Ia menilai keterbatasan maupun pandangan orang lain tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Pesan itu juga ia kaitkan dengan keputusan mahasiswa memilih UT sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi. Menurut Destita, fleksibilitas UT merupakan kesempatan besar bagi mahasiswa, terutama mereka yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga.
“Jangan pernah menyerahkan masa depan pada nasib. Semua harus direncanakan, kita harus berusaha, berikhtiar, berdoa, baru tawakal kepada Allah,” ucap Senator Destita.
Destita meminta mahasiswa baru memanfaatkan seluruh fasilitas yang tersedia di UT, termasuk tutorial, forum diskusi, perpustakaan virtual, tutor, serta berbagai layanan pendukung pembelajaran. Ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak malu bertanya dan mencari informasi sejak awal agar tidak kehilangan kesempatan selama menjalani perkuliahan.
Selain akademik, Destita juga mendorong mahasiswa aktif membangun jejaring dan mengikuti organisasi. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dapat melatih kepemimpinan, kemampuan bekerja sama dalam tim, manajemen waktu, serta memperluas relasi yang akan berguna dalam kehidupan profesional.
“Organisasi itu akan banyak mengajarkan kita, minimal kita menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Bagaimana kita mengatur kerja, belajar, keluarga, dan organisasi, kemudian bagaimana kita bekerja sama dengan tim,” tutur Senator Destita.
Ia menilai mahasiswa UT memiliki keuntungan karena jejaringnya tidak hanya berada di dalam negeri, tetapi juga mencakup mahasiswa dan jaringan UT di berbagai negara. Jejaring tersebut, kata dia, harus dimanfaatkan untuk menambah pengalaman, wawasan, bahkan kemampuan berkomunikasi dengan orang dari berbagai latar belakang.
Destita juga berpesan agar mahasiswa menjaga motivasi dengan selalu mengingat tujuan awal kuliah. Ia menyarankan mahasiswa bergabung dengan komunitas belajar, meminta dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, serta mampu mengelola stres dengan baik agar tetap konsisten menyelesaikan pendidikan.
“Jangan menyerah, jangan biarkan orang meremehkan kita. Kembali kepada niat kita dan jadikan niat itu supaya kita bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,” kata Senator Destita.
Melalui materi tersebut, Destita berharap mahasiswa baru UT Bengkulu tidak hanya berorientasi pada gelar akademik, tetapi juga membangun karakter, kemampuan, jejaring, dan pengalaman yang dapat menjadi bekal menghadapi dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu Direktur Universitas Terbuka (UT) Bengkulu Anton Robiansyah, S.E., M.Ak., CertIPSAS, mengatakan tahun ini UT menyambut sekitar 2.500 mahasiswa baru yang tersebar di berbagai program studi.
Menurutnya sistem pendidikan jarak jauh yang diterapkan UT menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Melalui sistem tersebut, mahasiswa memiliki fleksibilitas untuk mengikuti perkuliahan tanpa terikat tempat dan waktu seperti pada perguruan tinggi konvensional.
“UT saat ini adalah salah satu perguruan tinggi yang menggunakan sistem pendidikan jarak jauh, yaitu fleksibilitas di mana saja dan kapan saja mahasiswa bisa untuk berkuliah, dan juga terbuka untuk semua,” kata Anton.
Menurutnya, fleksibilitas tersebut memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat yang memiliki kesibukan pekerjaan maupun aktivitas lainnya untuk tetap menempuh pendidikan tinggi. Namun, kemudahan sistem pembelajaran bukan berarti mahasiswa dapat mengabaikan proses akademik yang harus dijalani.
Anton menjelaskan mahasiswa UT tetap mengikuti tahapan perkuliahan dan evaluasi akademik sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya. Proses tersebut antara lain mencakup kegiatan pembelajaran, ujian akhir semester, serta tahapan akademik lainnya hingga mahasiswa menyelesaikan studi dan memperoleh gelar.
Ia berpesan kepada seluruh mahasiswa baru agar memiliki komitmen menyelesaikan pendidikan setelah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di UT. Menurutnya, cita-cita untuk memperoleh gelar sarjana harus diikuti dengan konsistensi dan kesungguhan selama menjalani proses perkuliahan.
“Apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, karena sudah bercita-cita mendaftar di UT dan harus menjadi sarjana di UT,” ujar Anton.
Ia juga berharap mahasiswa baru dapat mengikuti seluruh proses pembelajaran dengan baik dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan UT. Selain fleksibilitas, mahasiswa juga memiliki kesempatan membangun jejaring yang luas selama menempuh pendidikan.
Anton mengatakan keberadaan UT memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi dengan sistem yang menyesuaikan kebutuhan mahasiswa. Karena itu, ia mengajak mahasiswa baru yang mengikuti OSMB untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai awal membangun komitmen hingga menyelesaikan pendidikan.






