
Bengkulu – Rencana pembukaan Program Studi Profesi Apoteker Universitas Bengkulu (Unib) mendapat dukungan dari Anggota DPD RI asal Bengkulu, Apt. Hj Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M. Rencana pembukaan Program Studi Profesi Apoteker disampaikan Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., pada pengukuhan enam Guru Besar Unib, di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu (22/7/2026).
Sebagai seorang apoteker lulusan Universitas Indonesia (UI), Destita menilai kehadiran pendidikan profesi apoteker di Bengkulu merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan.
Menurut Destita, selama ini banyak lulusan farmasi dari Bengkulu yang harus meninggalkan daerah untuk melanjutkan pendidikan profesi. Kondisi tersebut tidak hanya menambah beban biaya pendidikan, tetapi juga berpotensi mengurangi minat lulusan untuk kembali mengabdi di daerah asal.
“Sebagai seorang apoteker, saya tentu menyambut baik rencana Universitas Bengkulu membuka Program Studi Profesi Apoteker. Ini akan membuka kesempatan yang lebih luas bagi putra-putri Bengkulu untuk menyelesaikan pendidikan profesinya tanpa harus keluar daerah, sekaligus memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten di Provinsi Bengkulu,” kata Destita, Jumat (24/7/2026).
Sebelumnya Rektor Indra mengatakan Unib terus memperkuat pengembangan pendidikan di bidang kesehatan dengan mengajukan pembukaan Program Studi Profesi Apoteker pada 2026. Jika seluruh proses perizinan berjalan sesuai rencana, program tersebut ditargetkan mulai menerima mahasiswa baru pada 2027.
Rektor mengatakan Unib saat ini telah memiliki Program Diploma III Farmasi dan Program Sarjana (S1) Farmasi yang berada di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Kehadiran Program Studi Profesi Apoteker diharapkan melengkapi jenjang pendidikan farmasi di kampus tersebut.
“Kita sekarang sudah punya D3 Farmasi, punya S1 Farmasi, dan sekarang sedang mengusulkan Profesi Apoteker. Pengusulan ini baru kita ajukan pada tahun 2026 dan mudah-mudahan tahun depan sudah bisa menerima mahasiswa profesi apoteker,” ujar Indra.
Indra menambahkan, apabila Program Studi Profesi Apoteker telah berjalan, Unib akan melanjutkan pengembangan dengan membentuk Fakultas Farmasi sebagai fakultas tersendiri. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan di bidang kefarmasian di Bengkulu.
“Kalau nanti sudah ada tiga prodi, kita akan merencanakan Farmasi menjadi fakultas sendiri. Tetapi itu dilakukan setelah program profesi berjalan dan mampu melahirkan apoteker dari Universitas Bengkulu,” kata Indra.
Ia menjelaskan, selama ini lulusan Sarjana Farmasi Unib yang ingin memperoleh gelar apoteker harus melanjutkan pendidikan profesi ke luar Provinsi Bengkulu. Dengan hadirnya Program Studi Profesi Apoteker di Unib, lulusan diharapkan dapat menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan di daerah sendiri.
“Kita ingin alumni-alumni yang kita hasilkan mengambil profesi apoteker di Universitas Bengkulu. Bahkan alumni farmasi dari luar daerah juga kita harapkan bisa melanjutkan pendidikan profesinya di sini,” ujar Indra.






