Selasa, Juli 14, 2026
Beranda Bengkulu Selatan Bengkulu Selatan Jajaki Teknologi Swiss Olah Sampah Jadi Energi

Bengkulu Selatan Jajaki Teknologi Swiss Olah Sampah Jadi Energi

0
13

Bengkulu Selatan – Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan menjajaki penerapan teknologi pengolahan sampah bersama Swiss Green Projects. TPA Kayu Arau di Kecamatan Manna telah ditinjau untuk melihat potensi lokasi dan ketersediaan bahan baku bagi rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah.

Peninjauan dilakukan setelah Pemkab Bengkulu Selatan menggelar pertemuan secara virtual dengan tim Swiss Green Projects yang berada di Jenewa, Swiss. Kerja sama tersebut juga telah ditandai dengan penandatanganan kesepakatan antara kedua pihak.

Bupati Bengkulu Selatan Rifai Tajuddin mengatakan tahapan awal dilakukan melalui pengecekan lapangan dan pengambilan sampel sampah. Hasilnya akan menjadi bahan untuk menentukan kelayakan penerapan teknologi tersebut.

“Melalui komunikasi via Zoom, dilanjutkan pengambilan sampel di lapangan bersama Swiss Green. Mudah-mudahan kita memenuhi syarat untuk pengelolaan sampah secara teknologi,” kata Rifai.

Dalam peninjauan itu, Rifai didampingi Kepala Bappeda Litbang Fikri Aljauhari, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Erwin Muchsin, serta jajaran terkait. Hadir pula perwakilan Swiss Green Projects, Neli, dan perwakilan Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Lasmi.

Baca Juga:  Pemda Bengkulu Selatan Dukung Percepatan Hibah Kantor Bapas Manna

Teknologi yang ditawarkan Swiss Green Projects memungkinkan sampah diolah menjadi sejumlah produk, seperti gas, minyak naftah, dan listrik. Sampah organik juga berpotensi dimanfaatkan untuk menghasilkan pupuk.

Perwakilan Swiss Green Projects, Neli, mengatakan jenis produk yang dihasilkan akan bergantung pada komposisi sampah yang tersedia.

“Itu tergantung dari sampahnya. Kalau kebanyakan residu mungkin lebih ke gas,” ujarnya.

Dari pengecekan awal, sampah di TPA Kayu Arau didominasi material organik, sedangkan volume sampah plastik relatif lebih sedikit. Luas lahan TPA juga dinilai memungkinkan untuk pengembangan fasilitas pengolahan.

Namun, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor yang harus dipenuhi. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan sekitar 350 hingga 400 ton sampah per hari agar dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Kepala DLHK Bengkulu Selatan Erwin Muchsin mengatakan layanan pengangkutan sampah saat ini baru mencakup tiga dari 11 kecamatan. Cakupan tersebut akan diperluas apabila proyek pengolahan sampah direalisasikan.

“Kalau sudah kita angkut semua di kecamatan dan desa, barangkali sudah mencukupi. Ada juga beberapa pabrik sawit yang setiap harinya menghasilkan ratusan ton sampah,” kata Erwin.

Baca Juga:  Diduga Tilep Dana Hibah Rp25 Miliar, Ketua KPU Bengkulu Selatan Ditahan Kejari

Selain sampah rumah tangga, limbah dari industri kelapa sawit diproyeksikan menjadi sumber bahan baku tambahan. Pemkab Bengkulu Selatan masih akan menghitung potensi pasokan untuk memenuhi kebutuhan operasional fasilitas tersebut.

Sementara itu, Lasmi menyebut Swiss Green Projects telah menjalin kerja sama di lima negara. Bengkulu Selatan disebut menjadi daerah pertama di Indonesia yang menjajaki kerja sama tersebut.

“Swiss Green Project ini sudah melakukan kerja sama dengan lima negara, dan di Indonesia perdana ada di Bengkulu Selatan,” ujarnya.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]