BENGKULU– Di tengah pesatnya adopsi Kecerdasan Buatan (AI) di sektor pendidikan, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Bengkulu menggelar pelatihan strategis bertajuk “Kelas Kecerdasan Artifisial (KA) – AI Goes To School”. Sebanyak 68 pendidik dari berbagai jenjang di Provinsi Bengkulu berkumpul di UPA TIK Universitas Bengkulu untuk memperkuat kompetensi literasi AI dan integritas akademik.
Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mentransformasi peran guru dari sekadar pengajar menjadi navigator teknologi. Fokus utama pelatihan bukan hanya pada penguasaan alat (tools), melainkan pada penanaman etika penggunaan AI agar tidak mencederai nilai-nilai kejujuran di lingkungan sekolah.
Koordinator Wilayah Mafindo Bengkulu, Dr. Gushevinalti, M.Si., menekankan bahwa kehadiran AI harus disikapi dengan kebijaksanaan tinggi. “AI ibarat pisau bermata dua. Kami ingin para guru mampu menjadi navigator bagi siswa. Pendidik harus memahami etika agar AI tidak mencederai integritas akademik, melainkan menjadi alat pendukung kinerja yang efektif,” tegasnya.
Dukungan serupa datang dari Kepala Sub Bagian Bidang Pemantauan Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu, Sastro Pardianto. Ia mengapresiasi kolaborasi ini sebagai upaya menciptakan ekosistem belajar yang berkualitas melalui adaptasi teknologi yang tetap menjunjung tinggi sisi kemanusiaan.
Dalam sesi praktik yang dipandu oleh instruktur Iyud Dwi Mursito, M.I.Kom., para peserta langsung mensimulasikan pembuatan media pembelajaran interaktif menggunakan platform AI seperti:
Suno: Untuk pengembangan materi berbasis audio.
Dremina: Untuk visualisasi konten ajar yang memikat.
Implementasi teknologi ini bertujuan agar guru tidak lagi terbebani oleh kerumitan teknis produksi media, sehingga dapat lebih fokus pada substansi penyampaian materi dan pendampingan karakter siswa.
Pelatihan di Bengkulu ini merupakan bagian dari gerakan nasional Mafindo yang didukung oleh Google.org, AVPN, dan Asian Development Bank (ADB). Program ini menargetkan jangkauan hingga 10.000 guru di 40 kota di Indonesia dalam kurun waktu 18 bulan. Sebagai tindak lanjut, Mafindo juga menyediakan akses Learning Management System (LMS) agar para guru di “Bumi Rafflesia” dapat terus memperdalam materi secara mandiri.***


