Setiap hari, tanpa sadar, banyak keluarga Indonesia membuang nasi sisa, lauk yang tak tersentuh, sayuran layu di kulkas, atau bahan makanan yang kedaluwarsa sebelum sempat diolah.
Sekilas tampak sepele. Namun bila ditarik ke skala nasional, perilaku kecil ini menjelma menjadi persoalan besar.
Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Laporan UNEP 2024 memperkirakan bahwa lebih dari 48 juta ton food waste dihasilkan setiap tahun, jumlah yang sebenarnya mampu memberi makan 60 hingga 125 juta orang.
Angka tersebut tidak hanya mencerminkan pemborosan, tetapi juga ironi. Ketika sebagian pangan terbuang percuma, jutaan keluarga masih berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Data Badan Pangan Nasional (2023) menunjukkan 25,8 juta orang hidup dalam situasi rawan pangan.
Sementara itu, tiga dari sepuluh balita di Indonesia masih berisiko mengalami gagal tumbuh atau stunting akibat kurangnya asupan gizi berkualitas dalam jangka panjang. Di tengah upaya besar pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan menurunkan stunting, food waste menjadi musuh senyap yang harus segera ditangani.
Food Waste: Masalah yang Kita Ciptakan di Rumah Sendiri
Sebagian besar food waste justru terjadi di rumah tangga. Penyebabnya beragam: porsi masak berlebihan, kebiasaan belanja tanpa rencana, penyimpanan yang tidak tepat, hingga budaya “tidak menghabiskan makanan”. Di tingkat restoran, ritel, dan katering, overproduksi dan standar visual produk yang terlalu ketat ikut menambah tumpukan makanan yang layak konsumsi namun tidak terpakai.
Dampaknya tidak hanya merugikan ekonomi negara hingga Rp213–551 triliun per tahun (Bappenas, 2021), tetapi juga memperburuk lingkungan. Sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang 28 kali lebih berbahaya dibanding karbon dioksida. Bila dibiarkan, food waste mempercepat krisis iklim yang pada akhirnya kembali memukul produksi pangan nasional.
Dari Food Waste ke Ancaman Kurang Gizi
Food waste tidak dapat dilihat hanya sebagai isu sampah. Ia adalah isu gizi, kemanusiaan, dan masa depan bangsa. Ketika makanan bergizi terbuang, akses nutrisi menjadi sempit, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan keluarga berpenghasilan rendah.
Dalam konteks pencegahan stunting, pengurangan food waste berarti mengoptimalkan pangan yang sudah tersedia sehingga lebih banyak anak mendapatkan makanan bergizi yang seharusnya tidak terbuang. Gerakan penyelamatan surplus pangan (food rescue) serta inovasi mengurangi food waste menjadi bagian penting dari strategi ini.
Gerakan Pengurangan Food Waste: Dimulai dari Keluarga
Pengurangan food waste tidak selalu membutuhkan program besar. Justru, perubahan paling signifikan dapat dimulai dari dapur rumah. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:
a) Start small: ambil porsi kecil terlebih dahulu.
b) Leave nothing behind: biasakan menghabiskan makanan.
c) Check your fridge: rencanakan menu berdasarkan stok yang ada.
d) First in, first out: prioritaskan bahan yang lebih dulu dibeli.
e) Donasi pangan: salurkan makanan layak konsumsi melalui aplikasi pangan.
f) Kompos: manfaatkan sisa organik sebagai pupuk.
Peran ibu, PKK, kader kesehatan, guru, hingga SPPG sangat strategis dalam menggerakkan perubahan perilaku ini. Mereka adalah pengelola rumah tangga, pendidik anak, dan motor literasi kebiasaan makan yang baik di komunitas.
Perlu Kolaborasi Pentahelix
Pengurangan food waste membutuhkan kerja bersama. Berbagai pihak perlu terlibat:
a) Pemerintah daerah: penentu regulasi dan kebijakan.
b) Akademisi dan BRIN: menghadirkan riset, inovasi teknologi, serta kebijakan berbasis bukti.
c) Dunia usaha (UMKM, restoran, ritel, PPJI, industri pangan): mengurangi overproduksi melalui perencanaan produksi yang lebih efisien; menyalurkan surplus pangan melalui aplikasi dan Foodbank of Indonesia (FOI); mengembangkan bisnis sirkular seperti kompos, pakan ternak, serta produk olahan dari bahan imperfect food.
d) Komunitas & masyarakat (PKK, kader, orang tua, sekolah, tokoh masyarakat): menggerakkan perubahan perilaku konsumsi di level rumah tangga; monitoring MBG pada sasaran anak–remaja; mendorong dapur sehat tanpa sisa; memperkuat gerakan kampung zero food waste dan bank pangan lokal; menjadi role model bagi keluarga dan lingkungan.
e) Media: mendorong literasi publik melalui kampanye Zero Waste dan ketahanan pangan.
Jika semua pihak berjalan bersama, efisiensi rantai pasok meningkat, keluarga mendapatkan lebih banyak kesempatan mengakses pangan layak, dan risiko stunting dapat ditekan.
Mengubah Budaya Konsumsi: Dari Boros ke Bijak
Pengurangan food waste bukan hanya soal teknis penyimpanan atau perencanaan belanja. Ini juga soal nilai. Banyak ajaran agama, termasuk Islam, melarang pemborosan makanan dan mendorong umatnya menghargai rezeki. Mengubah perilaku konsumsi adalah bagian dari etika hidup yang bertanggung jawab.
Generasi muda juga dapat dilibatkan melalui kampanye digital, lomba inovasi pangan, tantangan “30 Hari Tanpa Food Waste”, dan program sekolah berwawasan lingkungan.
Penutup: Mulai Dari Meja Makan Kita Sendiri
Masalah food waste terlalu besar bila dibiarkan, tetapi sangat mungkin diselesaikan bila setiap rumah mengambil peran. Dari meja makan keluarga, perubahan dapat bergerak menuju desa, kecamatan, hingga kabupaten. Upaya kecil yang konsisten akan berdampak besar bagi bumi dan masa depan anak-anak kita.
Gerakan mengurangi food waste bukan hanya tentang tidak membuang makanan. Ini adalah gerakan menjaga masa depan bangsa: memastikan setiap anak tumbuh sehat, setiap keluarga cukup makan, dan setiap butir pangan dihargai sebagaimana mestinya.
Mulailah dari hari ini. Dari piring kita sendiri.
Penulis: Prof. Dr. Tri Siswati, SKM,M.Kes, – Jurusan Gizi PoltekkesKemenkes Yogyakarta







