Bengkulu – Mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menorehkan prestasi membanggakan pada ajang SEIBA Internasional Festival 2025 yang digelar di UIN Imam Bonjol Padang, 30 September 2025. Dalam kompetisi yang diikuti untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mahasiswa di tingkat dunia ini, Kontingen UIN FAS Bengkulu berhasil meraih tiga medali emas.
Medali Emas diraih Dalam kategori cabang Tari Tradisional Putra yang beranggotakan Anton Dewa Saputra, Rahmat rizky albaroqah, Muhammad Zaki, Muhammad Raufi Nasution, Tanu Wijaya, dan Muhammad Arkhanul Iman. Tim UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu berhasil memukau dewan juri dengan menampilkan tari sapu tangan yang berasal dari provinsi Bengkulu yang memadukan keindahan gerak dan makna filosofis budaya lokal. Sementara itu dua medali emas selanjutnya diraih dalam kategori Pop Solo Putra dan Monolog.
Anton selaku perwakilan dari cabang tari tradisional putra mengungkapkan bahwa mereka melakukan persiapan hingga berbulan-bulan untuk penampilan diajang Seiba Internasional Festival.
“untuk proses persiapan seiba internasional kami bisa dibilang berbulan-bulan untuk latihan itu dan juga 2 minggu sebelum berangkat juga kami setiap hari latihannya, dimana ketika latihan kami belajar gestur tubuh atau cara menari dan yang lainnya itu dengan serius, tempat lokasinya juga di kilometer 6,5 khususnya dirumah pembina kami bapak Muhamad Irman Nasyir, dan juga di lab terpadu UIN FAS Bengkulu” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (8/10/25).
Selain itu Anton juga menjelaskan faktor utama yang memungkinkan mereka bisa mendapatkan medali emas dalam kegiatan ini tidak hanya dari segi kekompakan tetapi juga karena keunikan tim yang seluruhnya beranggotakan laki-laki
“Faktor utama Kenapa bisa dibilang kami mendapat predikat medali tua atau emas itu yang pertama kemungkinan besar ya kami itu kompakkan yang kedua di berbagai tari tradisional itu hanya kontingen dari Uinfas yang laki-laki semua sedangkan kontingen lain dari luar itu campuran ada laki-laki ada perempuan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Anton dan teman-teman berharap untuk mahasiswa lain yang ingin berkompetisi atau mengikuti kegiatan-kegiatan Nasional maupun Internasional untuk tidak gengsi terutama bagi laki-laki untuk menghilangkan rasanya gengsi untuk belajar tari walaupun mayoritas Tari kebanyakan dilakukan oleh perempuan.
“Mahasiswa lain yang ingin berkompetisi atau mengikuti kegiatan-kegiatan nasional maupun internasional hindarilah namanya gengsi terutama contohnya kami kan bagi laki-laki menghilangkan rasanya gengsi untuk belajar tari karena kan mayoritas Tari itu kan kebanyakan perempuan dan juga bagiannya itu kan harus lembut, tapi dengan kita menghilangkan rasa gengsi itu Insyaallah kita bisa mengikuti hal-hal yang lebih tinggi contohnya kami yang mengikuti kegiatan Seiba Internasional” tuturnya. (Mu61)







