Bengkulu – Senator DPD RI dapil Bengkulu Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., MSM., mengusulkan agar rumah almarhum Acala Zamora atau Pak Mori, maestro kain Basurek asal Bengkulu, dijadikan galeri budaya. Usulan ini disampaikannya saat kunjungan budaya bersama sejumlah pihak ke kediaman mendiang Pak Mori di Bengkulu, Selasa (4/8/2025).
Destita menilai rumah Pak Mori memiliki nilai historis tinggi dan sangat layak dijadikan pusat pelestarian dan edukasi budaya kain Basurek. Ia menegaskan bahwa karya Pak Mori bukan sekadar batik, melainkan simbol identitas budaya Bengkulu yang harus dijaga.
“Banyak peninggalan beliau yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Galeri ini nantinya tidak hanya menyimpan karya, tapi juga menjadi pusat kreativitas dan destinasi wisata berbasis budaya,” ujar Destita.
Dalam kunjungan itu, turut hadir perwakilan seniman Bengkulu, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Museum Bengkulu. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pelestarian warisan budaya tak benda seperti kain Basurek.
Perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Rommi Ruestam, menyambut baik usulan tersebut. Ia menyebut peninggalan Pak Mori sebagai aset budaya yang tak ternilai dan perlu dikelola secara serius.
“Properti dan karya beliau ibarat harta karun bagi Bengkulu. Galeri maestro Basurek bisa menjadi ruang pelestarian sekaligus destinasi wisata budaya baru,” kata Rommi.
Pak Mori dikenal luas sebagai tokoh penting dalam pengembangan motif kain Basurek, termasuk motif kuwaw dan pohon hayat. Karyanya berkembang jauh sebelum kain Basurek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh pemerintah pusat.
Senator Destita juga mendorong agar sinergi antara lembaga budaya, pemerintah daerah, dan komunitas seniman diperkuat. Ia berharap pelestarian Basurek menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan masyarakat.
“Kita ingin kain Basurek tidak hanya dikenang sebagai warisan, tapi terus dikenakan dan diwariskan. Jika semua pihak terlibat aktif, galeri ini bisa jadi titik awal kebangkitan budaya Bengkulu ke tingkat nasional dan internasional,” pungkasnya.
Dengan langkah konkret seperti pendirian galeri, warisan budaya seperti kain Basurek diharapkan tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.







