Sabtu, Agustus 8, 2026
Beranda Berita Sarafal Anam, Tradisi Islami yang Mengakar di Bengkulu

Sarafal Anam, Tradisi Islami yang Mengakar di Bengkulu

0
4

Bengkulu – Provinsi Bengkulu tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga memiliki beragam tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Salah satunya Sarafal Anam, kesenian tradisional bernuansa Islami yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Melayu, Suku Lembak, dan Suku Serawai.

Masyarakat setempat juga mengenal Sarafal Anam dengan sebutan bedikir atau zikir. Kesenian ini berisi lantunan puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakan secara berkelompok.

Lantunan tersebut diiringi tabuhan rebana atau gendang dengan irama khas Melayu. Perpaduan vokal dan musik tradisional itu menjadi ciri utama pertunjukan Sarafal Anam yang dilakukan secara komunal.

Berkembang Bersamaan dengan Penyebaran Islam

Sarafal Anam memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tradisi Islam di Bengkulu. Kesenian ini diperkirakan berkembang seiring masuknya ajaran Islam ke wilayah Bengkulu pada kisaran abad ke-15 hingga ke-17.

Penyebaran Islam ketika itu berlangsung melalui berbagai jalur, termasuk perdagangan dan hubungan antarkerajaan di Nusantara. Dalam perkembangannya, Sarafal Anam menjadi salah satu media untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui perpaduan syair, lantunan zikir, dan seni musik tradisional.

Baca Juga:  KAMMI Bengkulu Demo "Indonesia Darurat", Ini Tuntutannya

Hadir dalam Berbagai Tradisi Masyarakat

Bagi sebagian masyarakat Bengkulu, Sarafal Anam menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan. Kesenian ini masih dipertunjukkan dalam sejumlah rangkaian tradisi yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat.

Sarafal Anam antara lain ditampilkan dalam pesta pernikahan adat atau bimbang, aqiqah, hingga prosesi pencukuran rambut bayi yang dikenal dengan istilah membuang rambut cemar. Selain itu, kesenian tersebut juga kerap ditampilkan dalam peringatan hari besar Islam, salah satunya Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dimainkan Secara Kompak

Pertunjukan Sarafal Anam dimainkan secara berkelompok dan umumnya melibatkan kaum pria. Para pemain melantunkan syair secara bersahut-sahutan dengan iringan tabuhan rebana yang mengikuti pola ritme tertentu.

Pertunjukan biasanya diawali dengan tempo yang lebih lambat dan khidmat. Seiring berlangsungnya pertunjukan, tempo dan kekuatan tabuhan meningkat hingga mencapai bagian puncak, termasuk pada rentak kudo yang menjadi salah satu pola pukulan khas dalam Sarafal Anam.

Menjaga Nilai Kebersamaan

Sarafal Anam tidak hanya memiliki fungsi sebagai kesenian tradisional, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan. Proses pertunjukan yang dilakukan secara berkelompok menuntut kekompakan, keselarasan, dan gotong royong antarpemain.

Baca Juga:  Tenaga Ahli Senator Destita Isi Pelatihan Keprotokolan dan Publikasi bagi CPNS Kominfo dan Prokopim Seluma

Perpaduan syair bernuansa Islam dengan musik tradisional Melayu membuat Sarafal Anam memiliki karakter budaya yang kuat. Tradisi ini terus diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Bengkulu sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan menjaga nilai-nilai keagamaan antargenerasi.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]