Kamis, September 10, 2026
Beranda Berita PERMAMPU Soroti Hak Kesehatan Seksual Perempuan Lansia

PERMAMPU Soroti Hak Kesehatan Seksual Perempuan Lansia

0
2

Medan – Konsorsium PERMAMPU (Perempuan Sumatera Mampu) menyoroti masih terbatasnya ruang aman bagi perempuan lansia dan pra-lansia untuk membicarakan kesehatan seksual dan reproduksi. Isu tersebut menjadi perhatian dalam peringatan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026 yang digelar secara hybrid melalui sekitar 25 titik kumpul di 10 provinsi di Pulau Sumatera.

Koordinator Konsorsium PERMAMPU, Dina Lumbantobing, mengatakan kesehatan dan hak seksual dan reproduksi (HKSR) merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dipenuhi sepanjang siklus kehidupan. Menurutnya, perempuan lansia menghadapi persoalan kesehatan seksual yang kompleks, namun masih terkendala stigma dan minimnya ruang aman untuk membicarakan kebutuhan mereka.

“Perempuan lansia menghadapi dinamika kesehatan seksual yang kompleks, tetapi terkendala oleh minimnya ruang aman untuk mendiskusikannya secara kritis serta tingginya stigma masyarakat,” kata Dina.

Kegiatan yang mengangkat tema “Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan” tersebut diikuti 262 peserta, terdiri dari 258 perempuan dan empat laki-laki. Peserta berasal dari kelompok perempuan lansia dan pra-lansia anggota Credit Union (CU), Forum Perempuan Muda, FKPAR, kader OSS&L, tenaga kesehatan, Dinas P3A, keluarga pembaharu, hingga lembaga layanan perempuan.

Baca Juga:  Kecamatan Diminta Gencar Sosialisasi Gerakan Lunas PBB

PERMAMPU menemukan diskusi mengenai seksualitas masih kerap dipahami sebatas hubungan seksual, sehingga kebutuhan kesehatan seksual lansia belum mendapat perhatian yang memadai. Padahal, edukasi seksualitas mencakup otonomi tubuh, pencegahan penyakit menular seksual, kontrasepsi, serta perubahan kesehatan reproduksi pada masa perimenopause dan pascamenopause.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri, dr. Nur Riviati, SpPD, K-Ger, mengatakan seksualitas tetap menjadi kebutuhan sepanjang hayat dan berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. “Seksualitas merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Jika aspek seksualitas tidak diperhatikan, dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan psikologis lansia, bahkan berkontribusi memunculkan depresi,” ujarnya.

Selain stigma, PERMAMPU mencatat layanan dan informasi HKSR masih lebih banyak berorientasi pada kelompok usia produktif. Kondisi tersebut membuat kebutuhan perempuan pada masa pra-lansia hingga lansia, termasuk keluhan perimenopause dan pascamenopause, belum sepenuhnya terdata dan terlayani.

PERMAMPU mendorong pemerintah mengakui hak kesehatan seksual lansia sebagai bagian dari layanan kesehatan dasar, termasuk melalui Puskesmas dan Posyandu Lansia. Organisasi ini juga mendorong ruang aman di tingkat komunitas, penguatan pendidikan seksual lintas usia, serta kebijakan daerah yang responsif terhadap kebutuhan kesehatan seksual perempuan lansia dan pra-lansia.

Baca Juga:  Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu Siap Layani Arus Mudik Lebaran 2026

[wpforms id="149" title="true" description="true"]