BENGKULU – Kuota peserta didik untuk program Sekolah Rakyat (SR) tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kaur dan Kota Bengkulu dilaporkan belum terpenuhi. Fenomena ini dipicu oleh masih minimnya minat serta kesiapan para orang tua untuk menyekolahkan buah hati mereka dengan sistem boarding school atau wajib menetap di asrama.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Bengkulu, Swifanedi Yusda, membenarkan adanya kendala serapan kuota pada jenjang pendidikan dasar tersebut. Merespons kondisi di lapangan, pihak Kementerian Sosial (Kemensos) langsung mengambil kebijakan taktis dengan melakukan pengalihan alokasi kursi ke jenjang di atasnya.
“Kurang peminat untuk tingkat SD yang pasti. Oleh karena itu, atas petunjuk dan koordinasi bersama Kemensos, maka kami alihkan kuotanya ke jenjang SMA. Saat ini total kuota keseluruhan sudah terpenuhi setelah dilakukan pengalihan tersebut,” terang Swifanedi pada Kamis (25/6/2026).
Melalui skema pengalihan kuota ini, jumlah siswa tingkat SMA yang semula hanya ditargetkan menampung 90 orang, kini bertambah menjadi 120 orang siswa demi memaksimalkan daya tampung fasilitas yang ada.
Swifanedi membeberkan, ganjalan utama dalam perekrutan siswa baru ini murni berasal dari faktor psikologis orang tua yang belum siap mental melepas anak-anak mereka yang masih usia dini untuk tinggal mandiri di asrama. Padahal, target utama dari sasaran program Sekolah Rakyat ini adalah anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2 data terpadu kesejahteraan sosial.
Skema beasiswa ini pun bersifat penuh, di mana seluruh biaya hidup, logistik, tempat tinggal, hingga pemenuhan gizi ditanggung penuh oleh negara.
“Kendalanya murni ada di orang tua yang merasa tidak tega atau belum ingin berpisah dengan anaknya yang masih kecil. Karena regulasi sistemnya adalah asrama, setiap siswa tanpa terkecuali wajib tinggal di dalam kompleks sekolah, meskipun seluruh kebutuhan hidup mereka sudah dijamin gratis oleh sekolah,” tutupnya.







