Minggu, September 13, 2026
Beranda Berita Pencarian Delapan Orang Hilang Saat Meliput Erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Perairan...

Pencarian Delapan Orang Hilang Saat Meliput Erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Perairan Bengkulu

0
4
Sebanyak delapan orang yang berada di kapal speedboat Arupadhatu 1 hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Banten — Sebanyak delapan orang yang berada di kapal speedboat Arupadhatu 1 hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda. Mereka terdiri dari tiga kru atau pemandu dan lima jurnalis dari berbagai media yang berada di kapal untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pencarian terhadap delapan orang tersebut memasuki hari kelima dengan melibatkan tim SAR gabungan. Dalam operasi pencarian, KN SAR Tetuka menemukan sejumlah benda yang berada di sekitar perairan Selat Sunda sebelah timur Pulau Rakata.

Empat benda yang ditemukan terdiri dari satu jeriken plastik berwarna biru, satu helm plastik merah, serta dua jaket pelampung. Seluruh temuan kemudian dibawa ke darat dan diserahkan kepada pihak berwenang untuk menjalani pemeriksaan serta identifikasi.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan benda-benda tersebut ditemukan di lokasi berbeda selama operasi pencarian pada Sabtu (12/9/2026). Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah benda yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan delapan orang yang masih dicari.

Baca Juga:  Dirlantas Polda Bengkulu Kombes Pol Hasan Usul Pemutihan Pajak Kendaraan Diperpanjang

“Betul, KN SAR Tetuka menemukan benda-benda tersebut dalam operasi pencarian di hari kelima, pada Sabtu (12/9/2026), yakni jerigen, helm, dan dua life jacket,” kata Al Amrad. Ia mengatakan hasil identifikasi akan disampaikan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang.

Temuan pertama berupa jeriken minyak berwarna biru ditemukan sekitar pukul 10.05 WIB di sektor pencarian KN SAR Tetuka. Sekitar pukul 12.33 WIB, tim kembali menemukan helm berwarna merah di lokasi pencarian.

Menjelang sore, tim menemukan jaket pelampung berwarna oranye pada pukul 17.10 WIB. Sekitar satu jam kemudian, tepatnya pukul 18.09 WIB, kembali ditemukan jaket pelampung berwarna merah.

Polda Banten melalui Ditpolairud kemudian memeriksa benda-benda tersebut untuk memastikan kemungkinan keterkaitannya dengan kapal Arupadhatu 1. Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan hasil pemeriksaan awal menunjukkan sejumlah benda bukan merupakan perlengkapan kapal.

Dua jaket pelampung berwarna oranye bertuliskan MILLES.II disebut bukan milik Arupadhatu 1 berdasarkan keterangan pemilik kapal. Jaket pelampung yang tersedia di kapal disebut berwarna merah, kuning, dan ungu serta tidak memiliki tulisan MILLES.II.

Baca Juga:  Tegakkan Disiplin Internal, Propam Polda Bengkulu Gelar Operasi Gaktibplin

“Setelah dilakukan pemeriksaan dan konfirmasi dari pemilik kapal speedboat Arupadhatu 1, dua life jacket berwarna oranye bertuliskan MILLES.II dinyatakan bukan milik kapal,” ujar Maruli, Minggu (13/9/2026). Polisi juga memeriksa jeriken dan helm yang ditemukan dalam pencarian.

Untuk jeriken, pemeriksaan menunjukkan adanya perbedaan fisik dengan jeriken yang digunakan kapal Arupadhatu 1. Isi jeriken temuan juga disebut mengeluarkan aroma minyak sayur, bukan bahan bakar Pertamax yang digunakan kapal.

Meski sejumlah temuan telah diperiksa, tim SAR belum menemukan delapan orang yang hilang kontak tersebut. Pencarian masih terus dilakukan dengan memperluas wilayah penyisiran berdasarkan kondisi angin dan arus laut.

Pada hari kelima, Basarnas mengerahkan 14 unit alat utama dan membagi area pencarian menjadi tujuh sektor. Pencarian mencakup perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, hingga wilayah yang diperkirakan menjadi arah pergerakan material.

Area pemantauan juga diperluas ke arah Bengkulu berdasarkan perhitungan SAR Map mengenai arah angin dan arus laut. Tim SAR telah berkoordinasi untuk memantau wilayah yang diperkirakan menjadi arah pergerakan material tersebut.

Baca Juga:  Usai Soekarno dan Gus Dur, Kapolri Ziarah-Tabur Bunga ke Makam Soeharto

Selain pencarian di laut, tim melakukan penyisiran daratan di sekitar Pulau Sebesi dan mengecek rekaman CCTV di kawasan sekitar. Namun, penyisiran darat belum menemukan tanda keberadaan para korban, sementara sejumlah rekaman CCTV tidak dapat digunakan karena tidak merekam aktivitas yang dibutuhkan atau mengalami kerusakan.

Kabut tebal menjadi salah satu kendala utama dalam pencarian hari kelima. Kondisi tersebut mengganggu jarak pandang sehingga Heli Rescue 3604 hanya dapat melakukan pencarian udara selama sekitar 41 menit.

“Untuk korban masih nihil. Kendala utama di lapangan berdasarkan laporan seluruh tim SAR gabungan adalah kabut tebal yang sangat mengganggu jarak pandang,” ujar Al Amrad.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]