Bengkulu – Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 sebagai upaya memperkuat UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan. Mengusung semangat “BeudayaMeusareSare” dari Aceh yang bermakna berdaya bersama-sama, KKI 2026 juga diarahkan untuk mendorong kebangkitan UMKM di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana alam.
KKI 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kegiatan tersebut dibuka Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming.
KKI 2026 diikuti lebih dari 550 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 UMKM melalui pameran daring pada platform KKI. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan KKI 2025 yang diikuti 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring.
KKI 2026 mengangkat tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Kegiatan ini melibatkan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis untuk memperkuat akses pembiayaan, digitalisasi, inovasi, dan perluasan pasar UMKM.
“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing,” kata Destry saat membuka KKI 2026. Menurutnya, bangkit berarti mendorong pemulihan UMKM dari tantangan ekonomi maupun bencana, tangguh melalui penguatan struktur usaha dan pembiayaan berkelanjutan, sedangkan berdaya saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan pasar domestik maupun ekspor.
KKI 2026 juga memperkuat Gerakan Korporasi Gandeng UMKM untuk mendorong pelaku usaha naik kelas. Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono mengatakan kemitraan dengan korporasi dapat menjadi pengungkit produktivitas, perluasan jaringan, serta adopsi teknologi oleh UMKM.
Dalam KKI 2026, BI menargetkan fasilitasi business matching omzet dan ekspor senilai Rp446,9 miliar. Selain itu, business matching pembiayaan, termasuk pembiayaan hijau, ditargetkan mencapai Rp212,8 miliar.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu turut berpartisipasi dengan memfasilitasi UMKM binaan unggulan daerah pada pameran luring dan kanal virtual KKI 2026. Dari partisipasi tersebut, UMKM Bengkulu membukukan total transaksi penjualan sebesar Rp955.491.033.
Sebanyak 32 UMKM unggulan Bengkulu mengikuti KKI 2026 melalui kanal daring, sementara enam UMKM tampil secara luring di JICC. Enam UMKM tersebut terdiri atas dua pelaku usaha wastra dan empat UMKM makanan serta minuman.
Pada kategori wastra, Batik Kagano menampilkan kain khas Bengkulu, sedangkan Swarnabumei menghadirkan produk ready to wear dengan mengangkat motif besurek dan bunga rafflesia. Sementara sektor makanan dan minuman diwakili CV Jaya Rasa Bengkulu, Giwigewi, Kerupuk Keite, dan Sari Aren.
Peluang ekspor juga dibuka melalui fasilitasi business matching antara UMKM Bengkulu dan calon mitra usaha. Kopi Bukit Barisan berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Indonesia Specialty Coffee untuk pembelian awal 500 kilogram kopi Robusta Bengkulu senilai Rp35,5 juta.
Selain Kopi Bukit Barisan, UMKM Bengkulu yang mengikuti business matching yakni Pak Sahid Coffee, Lestari Coffee, dan CV Jaya Rasa Bengkulu. Fasilitasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar dan menghubungkan UMKM daerah dengan rantai pasok korporasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan capaian tersebut menunjukkan UMKM Bengkulu semakin siap bersaing di tingkat nasional dan bermitra dengan korporasi. “Kehadiran 32 UMKM Bengkulu di KKI 2026 adalah manifestasi dari program pembinaan yang konsisten,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, transaksi dan kontrak kemitraan yang diperoleh UMKM Bengkulu menunjukkan produk daerah mampu merespons Gerakan Korporasi Gandeng UMKM. UMKM juga dinilai semakin siap naik kelas, memperoleh akses pembiayaan lebih luas, dan masuk dalam rantai nilai berskala nasional.
BI Bengkulu mengajak pemerintah, perbankan, korporasi, dan pelaku usaha terus memperkuat kolaborasi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan membuka ruang lebih besar bagi UMKM Bengkulu untuk berkembang dan menjangkau pasar global.







