Senin, Juni 15, 2026
Beranda Destita Khairilisani In Memoriam Achmad Sardi: Berhasil Antarkan Destita-Teddy Rahman ke puncak tertinggi Karier

In Memoriam Achmad Sardi: Berhasil Antarkan Destita-Teddy Rahman ke puncak tertinggi Karier

0
30
In Memoriam Drs. H. Achmad Sardi HS., M.Si.

Bengkulu – “Belum berhasil seseorang itu kalau belum berbuat untuk orang lain.”

Kalimat sederhana itu menjadi prinsip hidup yang selalu disampaikan Drs. H. Achmad Sardi HS., M.Si., kepada keluarga, sahabat, dan generasi muda yang mengenalnya. Pesan tersebut bukan sekadar nasihat, tetapi juga cerminan perjalanan hidup yang ia jalani hingga akhir hayat.

Achmad Sardi bin Hanapi Mair lahir pada 26 Februari 1953 dan mengembuskan napas terakhir pada 10 Juni 2026. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar, sahabat, kolega, serta masyarakat Bengkulu yang mengenalnya sebagai sosok pekerja keras, dermawan, penuh gagasan, dan memiliki kecintaan yang besar terhadap tanah kelahirannya.

Semasa hidup, Achmad Sardi dikenal luas dengan panggilan akrab “Pak Wo”. Ia merupakan putra asli Kabupaten Seluma yang meniti karier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Semarang, Jawa Tengah. Selain berkarier sebagai birokrat, ia juga mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sebagai dosen.

Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupannya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pendidikan Guru Agama (PGA) Manna, ia melanjutkan studi sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang dan kemudian menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Di balik kesibukannya sebagai ASN dan akademisi, Achmad Sardi tidak pernah berhenti belajar. Ia meyakini bahwa kemajuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh kemauan untuk terus mengembangkan diri dan berbagi ilmu kepada orang lain.

Bagi keluarga, Achmad Sardi bukan sekadar kepala keluarga. Ia adalah guru kehidupan yang menanamkan nilai-nilai integritas, kerja keras, disiplin, dan kepedulian sosial kepada anak-anaknya sejak dini.

Almarhum merupakan suami dari Hj. Sulistyowati, S.E., yang berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Dari keluarga inilah lahir putra-putri yang kemudian dikenal masyarakat Bengkulu, yakni anggota DPD RI Dapil Bengkulu, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., serta Bupati Seluma, Teddy Rahman, S.E., M.M.

Kaya dari Sedekah dan Investasi

Salah satu hal yang paling sering dibagikan Achmad Sardi kepada generasi muda adalah pentingnya membangun kemandirian finansial. Baginya, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan tetap.

Ia mulai mempelajari dunia investasi jauh sebelum investasi menjadi tren seperti saat ini. Deposito, Surat Berharga Negara (SBN), obligasi, saham, hingga logam mulia menjadi instrumen yang ia pelajari dan tekuni selama bertahun-tahun.

Keberhasilannya dalam berinvestasi menjadikan dirinya dikenal sebagai sosok yang sukses secara finansial. Namun, kekayaan yang dimilikinya tidak pernah membuatnya berhenti berbagi.

Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menekankan bahwa sedekah merupakan salah satu kunci keberkahan hidup. Menurutnya, kekayaan yang sesungguhnya bukanlah seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Selain berinvestasi, Achmad Sardi juga mengembangkan berbagai usaha swasta. Ia terlibat dalam pengembangan usaha Kangen Water, PT Pintu Batu Bengkulu, biro perjalanan wisata, layanan tiket perjalanan, penyelenggaraan umrah dan haji plus, hingga sektor perhotelan.

Baca Juga:  Senator Destita Turut Sukseskan Perjuangan Pendirian Kantor BP2MI di Bengkulu

Sebagai investor saham yang telah berkecimpung lebih dari dua dekade, Achmad Sardi kerap berbagi pengalaman kepada para pensiunan maupun anak-anak muda. Ia meyakini bahwa investasi merupakan salah satu cara terbaik untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dalam sebuah forum sosialisasi investasi bersama Persatuan Pensiunan Indonesia, ia pernah menceritakan pengalaman pribadinya memperoleh keuntungan besar dari investasi saham. Meski demikian, ia selalu mengingatkan bahwa hasil tersebut hanya bisa dicapai melalui proses belajar yang panjang, kesabaran, dan disiplin.

“Investasi saham itu luar biasa bagusnya berdasarkan pengalaman saya. Dalam satu hari itu saya pernah mendapat Rp 100 Juta, tapi saya modalnya sudah banyak,”.

Ia juga kerap mendorong generasi muda untuk mulai memahami dunia investasi sejak dini. Menurutnya, kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi telah membuka peluang besar bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kesejahteraan melalui pengelolaan keuangan yang baik.

Jangan Pernah Memberi Makan Anak dari Uang Korupsi

Di antara banyak pesan yang ditinggalkan Achmad Sardi, satu yang paling membekas bagi keluarga dan sahabat adalah pesannya mengenai kejujuran.

Ia selalu menegaskan bahwa jangan pernah sekalipun memberi makan keluarga dari uang hasil korupsi atau uang yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

“Saya ngga pernah memberikan anak saya uang dari hasil korupsi atau uang haram. Itu tak akan pernah menjadi daging dan berkah untuk kehidupan,” kenang penulis saat Pak Wo bercerita.

Menurutnya, rezeki yang berasal dari jalan yang salah tidak akan membawa keberkahan bagi kehidupan keluarga maupun masa depan anak-anak.

Pesan itu bukan sekadar teori. Sepanjang hidupnya, Achmad Sardi berusaha menjalani prinsip tersebut dalam setiap langkah kehidupan dan pekerjaannya.

Ia sering menceritakan bagaimana dirinya mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur, mandiri, dan bertanggung jawab. Baginya, keberhasilan seorang anak bukan hanya dilihat dari jabatan yang diraih, tetapi dari cara mereka memperoleh dan menjalankan amanah tersebut.

Achmad Sardi juga kerap mengkritik praktik korupsi yang menurutnya menjadi salah satu penghambat utama kemajuan Bengkulu.

Ia mengaku sedih ketika mendengar banyak pejabat daerah tersangkut kasus korupsi. Menurutnya, daerah tidak akan berkembang apabila pemimpinnya lebih sibuk memikirkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan masyarakat.

“Saya sedih ketika Bengkulu ini pajabatnya banyak korupsi. Bagaiaman bengkulu bisa maju jika kepala daerahnya, pejabatnya banyak yang korupsi. Jujur saya malu ketika bermain golf, teman-teman mengenal Bengkulu sebagai daerah yang dikenal dengan korupsinya.”

Karena itu, ia selalu berharap Bengkulu dipimpin oleh orang-orang yang tulus mengabdi dan menjauhkan diri dari praktik korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Mentor Terbaik bagi Anak-anaknya

Bagi Teddy Rahman, almarhum bukan hanya seorang ayah, tetapi juga sahabat dan mentor terbaik dalam kehidupan.

Setiap keputusan penting yang diambil Teddy selalu mendapat masukan dari sang ayah. Sosok Achmad Sardi menjadi sumber inspirasi dalam menjalankan amanah sebagai kepala daerah.

Baca Juga:  Senator Destita Sosialisasikan Empat Pilar MPR RI di Desa Temiang

“Hari ini saya kehilangan seorang ayah, sahabat, sekaligus guru kehidupan. Beliau mengajarkan arti tanggung jawab, pengabdian, dan kepedulian terhadap sesama,” ungkap Teddy Rahman.

Hal yang sama dirasakan Destita Khairilisani. Ia mengenang ayahnya sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan selalu mendorong anak-anaknya untuk berkembang.

Sejak kecil, mereka diajarkan untuk saling menyayangi, menghormati sesama, serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.

Destita masih mengingat bagaimana sang ayah mengantar dirinya dan Teddy ke sekolah menggunakan sepeda motor tua yang hingga kini masih disimpan keluarga sebagai kenangan berharga.

Tidak hanya itu, Achmad Sardi juga mendorong anak-anaknya untuk aktif di berbagai bidang. Mulai dari belajar menjadi qariah, aktif berorganisasi, hingga menjadi penyiar radio pernah dijalani sebagai bagian dari proses pembelajaran kehidupan.

Baginya, pengalaman adalah sekolah terbaik yang akan membentuk karakter seseorang.

Cinta yang Tak Pernah Putus untuk Bengkulu

Meski menghabiskan sebagian besar kariernya di Pulau Jawa, kecintaan Achmad Sardi terhadap Bengkulu tidak pernah pudar.

Hal itu diungkapkan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, saat melayat dan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Menurut Helmi Hasan, Achmad Sardi merupakan sosok yang memiliki perhatian besar terhadap masa depan Bengkulu.

Hampir setiap pertemuan selalu diisi dengan diskusi tentang pembangunan daerah, kesejahteraan masyarakat, serta harapan agar Bengkulu dipimpin oleh orang-orang yang bersih dan berintegritas.

“Kalau hanya mencari kenyamanan, almarhum sudah nyaman. Tetapi beliau ingin masyarakat Bengkulu ikut maju, bahagia, dan sukses,” ujar Helmi Hasan.

Bahkan menjelang Pilkada 2024, almarhum aktif berdiskusi dengan berbagai tokoh mengenai arah pembangunan Bengkulu ke depan.

Almarhum mengintervensi para calon Gubernur untuk serius membangun Bengkulu, tanpa korupsi, praktik kolusi dan membawa kepentingan pribadi. Komitmen tersebut disambut Helmi Hasan Politikus Partai Amanat Nasional sekaligus Adik dari Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan.

Kecintaannya terhadap daerah juga diwujudkan dengan mendorong putra-putrinya untuk ikut mengabdi kepada masyarakat.

Achmad Sardi turut mewakafkan putra-putrinya untuk turut membangun Bengkulu, dengan meminta Teddy Rahman menjadi Bupati Seluma, dan sang Kakak Destita Khairilisani menjadi anggota DPD RI/MPR RI.

Ayahanda setia mendampingi sang Putri, apoteker Destita mendaftar DPD RI. Ia menjadi pendaftar pertama sebagai bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan Provinsi Bengkulu untuk Pemilu Serentak tahun 2024, pada Senin 5 Mei 2023.

Berikutnya, yang ayahanda mendaftrakan putranya Teddy Rahman mendaftar ke KPU Kabupaten Seluma pada hari kedua pendaftaran Pilkada, Rabu, 28 Agustus. Sampai pada pelantikannya di Oktober 2024, Achmad Sardi masih mendampingi putrinya tercinta, Destita.

Menurut Helmi Hasan, langkah tersebut menunjukkan bahwa Achmad Sardi tidak ingin hanya dirinya yang berkontribusi untuk Bengkulu. Ia ingin anak-anaknya melanjutkan perjuangan yang sama.

“Allah menghadirkan anak-anak beliau untuk berjuang membangun daerah. Bu Destita menjadi anggota DPD RI, Mas Teddy Rahman menjadi Bupati Seluma. Artinya almarhum benar-benar ingin Bengkulu ini maju,” katanya.

Baca Juga:  Bupati Seluma Terbitkan SE Imbauan Hormati Waktu Shalat dan Gerakan Shalat Berjamaah

Helmi Hasan yang didampingi Sekda Herwan Antoni bersama para pelayat turut memanjatkan doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta diampuni segala dosa dan kesalahannya.

“Kita sudah mendoakan beliau. Semoga Allah SWT menempatkan almarhum di tempat terbaik, mengampuni dosa-dosanya, dan menerima seluruh amal ibadahnya,” tuturnya.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat yang mengenalnya. Almarhum dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi dalam kehidupan bermasyarakat serta menjadi panutan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Perjuangan Melawan Sakit

Di balik semangat dan aktivitasnya yang tinggi, Achmad Sardi harus menghadapi ujian kesehatan pada masa-masa terakhir.

Dalam malam ketiga tahlilan, Teddy Rahman menceritakan perjalanan panjang pengobatan sang ayah yang dimulai sekitar dua bulan sebelum berpulang.

Selama 11 hari di Malaysia, almarhum menjalani terapi dan pengobatan sebelum kembali ke Jakarta. Setelah satu bulan menjalani pengobatan, kondisi kesehatannya sempat stabil dan kembali diperiksa di Malaysia.

Namun dua minggu setelah kembali ke Jakarta, kondisi kesehatannya kembali menurun.

Almarhum kemudian menjalani perawatan intensif selama 13 hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.

Setelah kondisinya membaik, dokter memperbolehkannya pulang. Selama lima hari terakhir di rumah keluarga di Bekasi, seluruh anak, cucu, dan keluarga besar bergantian merawat serta menemaninya.

Di masa-masa itulah almarhum kembali menyampaikan amanah yang telah lama dipegangnya, yakni keinginan untuk dimakamkan di kampung halaman tercinta, Kembang Mumpo, Kabupaten Seluma.

Pada 10 Juni 2026 dini hari, kondisi kesehatannya kembali menurun sehingga keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, almarhum masih didampingi tenaga medis. Namun ketika tiba di depan pintu Instalasi Gawat Darurat (IGD), denyut nadinya menghilang.

Pada pukul 08.30 WIB, dokter menyatakan Achmad Sardi telah meninggal dunia.

Pulang dengan Damai ke Tanah Kelahiran

Kepergian Achmad Sardi menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan masyarakat yang mengenalnya.

Meski demikian, keluarga merasa bersyukur karena dapat memenuhi amanah terakhir almarhum untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.

Karena keterbatasan waktu pengiriman jenazah melalui jalur udara, keluarga memutuskan membawa jenazah melalui jalur darat menuju Bengkulu.

Pada akhirnya, Achmad Sardi kembali ke tempat yang selalu dicintainya sepanjang hidup: Kembang Mumpo, Kabupaten Seluma. Di sanalah ia beristirahat untuk selama-lamanya.

Namun nilai-nilai yang ia wariskan tidak ikut terkubur bersama jasadnya. Keteladanan, semangat berbagi, kecintaan terhadap pendidikan, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat akan terus hidup dalam ingatan keluarga, sahabat, serta masyarakat Bengkulu.

Sebab pada akhirnya, seperti pesan yang selalu ia sampaikan semasa hidup, keberhasilan seseorang tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang telah diberikan kepada orang lain.

***

Bisri Mustofa, Bengkulu, 14 Juni 2026

[wpforms id="149" title="true" description="true"]