Senin, Juni 15, 2026
Beranda Nasional Konsumsi Susu Dinilai Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

Konsumsi Susu Dinilai Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

0
9
Diskusi Hari Susu Nusantara 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/6/2026).

JAKARTA – Rendahnya konsumsi susu dan protein hewani masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap berbagai indikator pembangunan manusia, mulai dari kualitas pendidikan hingga daya saing nasional.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University sekaligus ahli gizi, Prof. Dr. Epi Taufik, mengatakan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain di Asia.

Menurutnya, rendahnya asupan protein hewani berkorelasi dengan sejumlah indikator seperti Programme for International Student Assessment (PISA), Human Development Index (HDI), hingga rata-rata tingkat kecerdasan penduduk.

“Indonesia masih tertinggal dalam sejumlah indikator pembangunan manusia. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah rendahnya konsumsi protein hewani,” kata Epi dalam diskusi Hari Susu Nusantara 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Epi menjelaskan, susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki tingkat penyerapan nutrisi sangat tinggi. Selain mengandung protein, karbohidrat, dan lemak, susu juga kaya vitamin, mineral, serta berbagai komponen bioaktif yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuh.

Baca Juga:  Polri Apresiasi Massa Buruh Sampaikan Aspirasi Tertib pada Peringatan May Day

Ia menyebut sedikitnya terdapat 13 komponen bioaktif utama dalam susu yang berperan dalam pertumbuhan tinggi badan, kesehatan tulang, perbaikan status gizi, hingga peningkatan fungsi kognitif.

Karena manfaat tersebut, banyak negara maju menjadikan susu sebagai bagian dari program makan sekolah. Jepang, misalnya, secara konsisten menyediakan susu setiap hari bagi siswa sekolah dasar hingga menengah pertama.

“Menu lauk bisa berubah, tetapi susu selalu tersedia setiap hari dalam program makan sekolah,” ujarnya.

Menurut Epi, Indonesia perlu mengarah pada kebijakan serupa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat menjadi langkah awal untuk memperluas akses anak-anak terhadap susu sekaligus memperbaiki kualitas gizi masyarakat.

Selain berdampak pada kesehatan anak, program tersebut juga berpotensi menggerakkan ekonomi sektor persusuan nasional. Permintaan yang meningkat akan membuka peluang investasi, memperkuat industri pengolahan susu, meningkatkan pendapatan peternak, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Saat ini, kata Epi, investasi di sektor persusuan mulai terlihat dengan masuknya sekitar 16 ribu ekor sapi perah untuk memperkuat pasokan susu dalam negeri. Namun peningkatan populasi ternak harus dibarengi dengan inovasi dan peningkatan produktivitas.

Baca Juga:  Jokowi Tunjukkan Ijazah kepada Media, Pertimbangkan Langkah Hukum atas Tuduhan Ijazah Palsu

Produktivitas sapi perah rakyat saat ini rata-rata sekitar 12,5 liter per ekor per hari. Jika dapat ditingkatkan menjadi 15 hingga 20 liter per hari melalui perbaikan genetika, kualitas pakan, dan modernisasi peternakan, produksi susu nasional akan meningkat tanpa perlu penambahan populasi ternak secara besar-besaran.

“Inovasi harus memastikan susu diproduksi secara efisien, berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” katanya.

Epi memperkirakan konsumsi susu nasional dapat meningkat signifikan apabila sekitar 74 juta siswa menerima susu secara rutin melalui program MBG hingga 2029. Konsumsi susu nasional yang saat ini berada di kisaran 16–17 liter per kapita per tahun berpotensi meningkat hingga mendekati 35 liter per kapita per tahun.

Ia mencontohkan Thailand yang berhasil meningkatkan konsumsi susu masyarakat setelah menerapkan program susu sekolah secara nasional sejak awal 1990-an. Konsumsi susu di negara tersebut meningkat dari sekitar 2 kilogram per kapita per tahun menjadi sekitar 30 liter per kapita per tahun.

Menurut Epi, peningkatan konsumsi susu tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Baca Juga:  Sinyal Kembali Menyala, Warga Aceh Tamiang Bisa Terhubung dengan Keluarga

“Pembangunan manusia harus dimulai dari sekarang. Jika ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka peningkatan kualitas gizi anak-anak menjadi salah satu langkah yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]