Bengkulu – Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan jalur rel kereta api yang menghubungkan Bengkulu dengan Sumatera Selatan. Infrastruktur tersebut dinilai dapat menjadi solusi untuk memperlancar distribusi komoditas energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara.
Dukungan tersebut disampaikan menyusul usulan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, yang mendorong pembangunan kawasan industri serta jalur kereta api di Bengkulu agar masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Usulan itu sebelumnya disampaikan dalam audiensi bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Ketua Umum DPP HPMPI, Steven, mengatakan jalur kereta Bengkulu–Sumsel akan memperkuat sistem transportasi logistik antar daerah, khususnya untuk pengangkutan komoditas dalam jumlah besar.
Menurutnya, kereta api dapat menjadi alternatif penting ketika distribusi logistik melalui jalur laut mengalami kendala. Selama ini, ketika pasokan melalui laut terganggu, distribusi BBM ke Bengkulu harus dialihkan melalui jalur darat yang memiliki berbagai keterbatasan.
“Pengalaman sebelumnya saat jalur laut terganggu, suplai BBM ke Bengkulu dialihkan melalui jalur darat yang memiliki banyak keterbatasan. Dengan adanya kereta api, distribusi logistik akan lebih efisien,” ujar Steven, Senin 16 Maret 2026.
Selain BBM, pengangkutan batu bara melalui jalur kereta juga dinilai lebih efektif karena mampu membawa muatan dalam jumlah besar sekaligus mengurangi potensi kerusakan jalan umum akibat kendaraan angkutan berat.
“Kami sangat mendukung pembangunan rel kereta di Bengkulu untuk mendukung pengangkutan berbagai komoditas, khususnya di sektor energi,” tambahnya.
Sebagai informasi, rencana pembangunan jalur rel kereta Bengkulu–Sumsel telah dirancang sejak beberapa tahun lalu untuk menghubungkan Bengkulu dengan Palembang. Rencana tersebut juga sejalan dengan proyek pembangunan Jalan Tol Bengkulu–Lubuklinggau, meskipun hingga kini belum terealisasi.
Ke depan, jalur kereta tersebut dirancang untuk mengangkut komoditas dari Sumatera Selatan yang memiliki potensi batu bara besar, kemudian didistribusikan melalui Pelabuhan Pulau Baai.







