Bengkulu — Sebuah video berdurasi 37 detik yang memperlihatkan dua pria diduga warga Pulau Enggano membuang tandan-tandan pisang ke laut viral di media sosial sejak Minggu pagi (4/5/2025). Dalam video tersebut tampak tulisan “Warga Enggano yg Terisolir hasil pertaniannya”, yang menggambarkan keresahan mendalam masyarakat atas sulitnya distribusi hasil pertanian ke daratan utama Bengkulu.
Redy Kaitora, Kepala Desa Apoho sekaligus Ketua Forum Kepala Desa Pulau Enggano, membenarkan kejadian itu. Ia mengatakan peristiwa tersebut terjadi dua hari sebelumnya dan mencerminkan frustrasi warga yang selama ini kesulitan membawa hasil bumi ke Bengkulu akibat pendangkalan alur pelayaran.
“Ini baru dua hari yang lalu. Warga sangat sulit membawa hasil bumi ke Bengkulu karena alur dangkal,” ujarnya saat dihubungi media ini, Minggu pagi.
Menurut Redy, pendangkalan alur pelayaran menjadi persoalan utama yang menekan kehidupan ekonomi masyarakat Enggano. Ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan pengerukan agar kapal-kapal dapat bersandar dengan normal dan distribusi logistik bisa kembali lancar.
“Harapannya agar alur pelabuhan segera dikeruk,” tegasnya.
Seperti diketahui, pendangkalan alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai berdampak signifikan terhadap aktivitas pelayaran dari dan ke Pulau Enggano. Gangguan tersebut menyebabkan terhambatnya distribusi logistik, termasuk bahan bakar minyak (BBM), batubara, sawit, serta kebutuhan pokok lainnya.
Pemerintah Provinsi Bengkulu saat ini masih berupaya melobi pemerintah pusat, khususnya Pelindo dan Kementerian Perhubungan, untuk segera merealisasikan pengerukan. Namun hingga kini, belum ada kejelasan waktu pelaksanaannya.
Manajer Komersial dan Kepatuhan Pelindo II, Doddy Setiawan, dalam pernyataan tertulis pada 27 April lalu menyatakan bahwa pengerjaan pengerukan masih menunggu informasi dari kantor pusat.
“Saat ini memang kita masih menunggu info dari kantor pusat kapan kapal keruk bisa segera tiba. Kalau sudah ada info akan kami sampaikan,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.
Sementara itu, Wakil Ketua Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Bengkulu, Edi Haryanto, menyayangkan lambannya respons Pelindo II terhadap masalah ini. Ia menilai, jika keterlambatan terus terjadi, Pelabuhan Pulau Baai terancam tidak lagi dapat beroperasi optimal.
“Kami melihat pengerukan yang dilakukan oleh PT Pelindo untuk mengatasi alur pelabuhan Pulau Baai ini sangat lambat dan kurang maksimal. Kalau ditunda terus bisa-bisa tutup pelabuhan kita ini,” ujarnya.
Warga Enggano berharap pemerintah dan pihak terkait segera bertindak cepat sebelum kondisi semakin memburuk dan memutus total jalur distribusi logistik ke pulau terluar Bengkulu tersebut.


