back to top
Rabu, Februari 11, 2026
BerandaKota BengkuluTradisi Narik Pukek Meriahkan Pesisir Kota Bengkulu, Simbol Gotong Royong Masyarakat Pesisir

Tradisi Narik Pukek Meriahkan Pesisir Kota Bengkulu, Simbol Gotong Royong Masyarakat Pesisir

Bengkulu – Pesisir pantai Kota Bengkulu tampak semarak pada Minggu (8/2/2026). Ratusan warga, mulai dari pelajar hingga ibu-ibu organisasi perempuan, memadati kawasan Kota Tua untuk mengikuti tradisi legendaris masyarakat pesisir, Narik Pukek.

Kegiatan yang menjadi bagian dari Festival Yo Botoi-Botoi Tarik Pukek ini bukan sekadar seremoni menangkap ikan, melainkan simbol kuat pelestarian budaya dan semangat gotong royong masyarakat pesisir Bengkulu. Tradisi ini kini resmi masuk sebagai agenda tahunan dalam Kalender Event Nasional.

Wakil Wali Kota Bengkulu, Ronny PL Tobing, yang hadir langsung di lokasi kegiatan, menegaskan bahwa Narik Pukek mencerminkan nilai kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Bengkulu.

“Tidak bisa hanya satu atau dua orang yang menarik jaring ini karena bebannya berat dan talinya panjang. Tarik Pukek adalah bentuk nyata gotong royong dan pelestarian budaya masyarakat pesisir kita,” ujar Ronny.

Ia berharap tradisi Narik Pukek dapat terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pola hidup masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi kebersamaan.

Baca Juga:  Walikota Dedy Wahyudi Tinjau Langsung Pembangunan Jalan di Perumahan Cagiva

Selain prosesi penarikan jaring pukek, kemeriahan festival juga diisi dengan berbagai kegiatan pendukung. Salah satunya lomba mengecat kapal nelayan yang diikuti sekitar 100 peserta dengan melibatkan 80 unit kapal nelayan yang dihias secara kreatif dan penuh warna.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, Nina Nurdin, menjelaskan bahwa rangkaian Festival Yo Botoi-Botoi Tarik Pukek juga mencakup lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba memasak berbahan dasar ikan, serta pameran UMKM yang mendapat dukungan dari sektor perbankan, salah satunya Bank Indonesia.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah menghidupkan kembali kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata unggulan. Kami ingin budaya lokal tetap eksis di tengah perkembangan teknologi, sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Bengkulu,” jelas Nina.

Kemeriahan kegiatan ini turut didukung partisipasi aktif berbagai organisasi perempuan, seperti Tim Penggerak PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), serta komunitas perempuan lainnya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dan budaya lokal merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Baca Juga:  Gudang PPI Kota Bengkulu Terbakar, Satu Keluarga Jadi Korban

Tradisi Narik Pukek dalam Festival Yo Botoi-Botoi pun menjadi bukti bahwa kearifan lokal Bengkulu tidak hanya tetap hidup, tetapi juga mampu dikemas secara menarik sebagai daya tarik wisata budaya yang bernilai nasional.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

- Advertisment -

[wpforms id="149" title="true" description="true"]