
Jakarta – Senator DPD RI, apt. Destita Khairilsani, S.Farm., M.S.M membuka secara resmi Seminar dan Pembukaan Hibah Penelitian ObatApps 2025 yang digelar secara hybrid di Gedung DPD RI, Jakarta, dan melalui platform Zoom Meeting, Jumat (18/7/2025). Dalam kegiatan yang mengusung tema “Sinergi Triple Helix & Penguatan Budaya Riset Menuju Kemandirian Farmasi Nasional”, Destita menegaskan pentingnya riset sebagai fondasi utama dalam pembangunan sektor kesehatan dan kefarmasian Indonesia.
Destita menyampaikan rasa hormat dan apresiasinya kepada para tokoh farmasi nasional yang turut hadir, baik secara langsung maupun daring, termasuk di antaranya Co-Founder dan Presiden Direktur Farmalistik Grup apt. Ridho Muhammad Sakti, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Riset dan Pengembangan Kemendikbudristek Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D, Ketua APTFI Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M.Si., serta para akademisi, praktisi industri, dan lebih dari 300 perguruan tinggi farmasi dari seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Senator asal Bengkulu ini menguraikan peran strategis DPD RI dalam mendukung kemajuan daerah melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan pertimbangan. Ia menjelaskan, sebagai anggota DPD yang mewakili 38 provinsi, para senator memiliki mandat untuk memperjuangkan kepentingan daerah, termasuk dalam bidang kesehatan dan pendidikan, yang menjadi bagian dari kerja Komite III DPD RI.
“Saya merasa terhormat sebagai apoteker dapat terlibat langsung dalam kegiatan strategis ini. Sebagai bagian dari Komite III DPD RI yang membidangi kesehatan dan pendidikan, saya memahami pentingnya mendukung program-program inovatif seperti hibah penelitian ini,” ujar Destita.
Destita juga menekankan kemajuan industri farmasi nasional hanya bisa dicapai melalui sinergi antara akademisi, pelaku industri, dan pemerintah—yang dikenal dengan konsep triple helix. Ia menyambut baik inisiatif PT Obat Inovasi Indonesia melalui aplikasi pembelajaran OBATapps dalam mendorong terciptanya riset berkualitas dan berdampak nyata bagi masyarakat.
“Program ini bukan hanya menyediakan hibah, tapi juga memberi dukungan pelatihan, monitoring, hingga pendampingan. Ini sangat penting untuk memastikan riset-riset yang dihasilkan betul-betul bisa dipublikasikan dan dihilirisasi, bahkan memberi kontribusi bagi masyarakat dan industri,” tegasnya.
Destita juga menyoroti urgensi riset di bidang farmasi untuk menjawab tantangan zaman, seperti munculnya penyakit baru, resistensi antibiotik, dan kebutuhan terhadap terapi yang lebih personal. Ia menilai, riset akademis berperan besar dalam pengembangan obat, peningkatan pelayanan kesehatan, serta penguatan kebijakan publik berbasis bukti.
“Riset di bidang farmasi sangat mendesak dilakukan untuk memerangi resistensi antimikroba, meningkatkan efektivitas pengobatan, hingga memajukan teknologi farmasi. Apalagi kini kita berada di era Society 5.0 yang sangat menekankan digitalisasi dan inovasi,” ujarnya.
Destita turut mengajak pemerintah, kampus, dan industri untuk terus memperkuat kolaborasi dan memperbesar investasi dalam penelitian. Ia menggarisbawahi bahwa hanya bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu menjadi bangsa yang makmur.
“Saya mengapresiasi penuh kegiatan ini. Tidak hanya karena saya bagian dari masyarakat farmasi Indonesia, tapi juga sebagai wakil rakyat yang terus mendorong agar inovasi dan riset menjadi budaya yang hidup dalam dunia pendidikan kita,” tegasnya.
Di akhir sambutan, Destita mengucapkan selamat kepada para peserta dari berbagai perguruan tinggi yang berkesempatan mengikuti hibah penelitian tahun 2025 ini. Ia berharap seluruh proses penelitian dapat berjalan lancar dan menghasilkan luaran yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga berdampak luas bagi sektor kesehatan dan masyarakat Indonesia.
Pentingnya Ekosistem Riset Terintegrasi
Direktur Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Riset dan Pengembangan Kemendikbudristek, Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D, dalam keynote speech-nya menegaskan urgensi membangun ekosistem riset yang kuat, berkelanjutan, dan terintegrasi, khususnya di bidang kesehatan dan farmasi.
“Ekosistem penelitian yang kuat adalah pondasi utama untuk menciptakan inovasi. Kita butuh kolaborasi nyata antara universitas, industri, dan pemerintah untuk menghasilkan riset yang berdampak,” ujar Prof. Ketut.
Ia menceritakan pengalamannya sebagai akademisi dan peneliti di Sekolah Farmasi ITB, termasuk saat menjabat sebagai dekan, serta keterlibatannya dalam kemitraan strategis bersama industri seperti Kalbe Farma dalam program Riset Kolaboratif Sains dan Aplikasi (RKSA). Saat ini, Prof. Ketut juga menjabat sebagai salah satu dewan juri program RKSA tersebut.
Dalam paparannya, Prof. Ketut menyampaikan pesan tegas dari Presiden RI, Prabowo Subianto, bahwa “hanya bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan menjadi bangsa yang makmur.” Ia menekankan pentingnya komitmen negara terhadap sains dan inovasi untuk mendongkrak kesejahteraan rakyat secara luas.
“Data menunjukkan bahwa kesejahteraan suatu bangsa sangat didorong oleh kekuatan teknologi dan inovasi. Kita harus membangun sistem riset yang tidak hanya produktif, tapi juga terarah dan aplikatif,” tambahnya.
Kegiatan ini juga diisi dengan pelaporan hibah penelitian tahun 2024 oleh apt. Damas Raja, S.Farm, selaku Marketing Leader OBATapps. Ia menyampaikan program hibah penelitian OBATapps telah berjalan sejak tahun 2019 dan pada 2025 ini akan menyalurkan dana senilai total Rp350 juta kepada dosen dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi, termasuk non-mitra.
Tahun sebelumnya, dari 22 proposal yang masuk, sembilan penelitian berhasil didanai, dengan penghargaan hibah terbaik jatuh kepada Stikes Samarinda. Tahun ini, program diperluas bagi kampus non-mitra dan disertai dukungan pelatihan, monitoring, serta pendampingan untuk mendorong hasil riset yang terpublikasi dan memiliki nilai hilirisasi.
Damas menyampaikan terima kasih kepada seluruh civitas akademika yang telah hadir, baik secara daring maupun luring, dalam kegiatan ini. Berdasarkan data terakhir, tercatat lebih dari 320 kampus mengikuti acara ini secara virtual melalui virtualpharmaskill.id.
Damas menjelaskan Pharmaclick Group lahir dari semangat aktivisme mahasiswa yang tergabung dalam ISMAFARSI, yang dulu aktif berkeliling dari satu kampus ke kampus lain. Dari situ, muncul cita-cita besar akan pentingnya pemerataan pendidikan farmasi di Indonesia. Pada tahun 2016, saya bersama rekan saya Mas Syaiful, memulai langkah ini yang kemudian melahirkan platform edukasi Obat Apps.
Obat Apps tidak hanya menjadi sarana pembelajaran digital, tetapi juga mendampingi kampus dalam banyak hal, mulai dari akreditasi, pelatihan, hingga pendirian program studi baru. Bersama tim, kami ingin turut berkontribusi sebagai “bahan bakar” bagi para lokomotif pendidikan farmasi di Indonesia.
“Melalui momentum seminar ini, kami berharap bisa memperkuat kolaborasi lintas sektor sesuai semangat triple helix, demi penguatan budaya riset dan kemandirian farmasi nasional. Apalagi saat ini kita tengah berada di awal pemerintahan baru, yang tentu memerlukan penyelarasan visi pendidikan kefarmasian ke depan,” pungkas Damas.





