Kamis, Maret 19, 2026
Beranda Destita Khairilisani Senator Destita Sambangi Rektor Unib, Bahas Kolaborasi Pendidikan hingga Penguatan Ekspor Daerah

Senator Destita Sambangi Rektor Unib, Bahas Kolaborasi Pendidikan hingga Penguatan Ekspor Daerah

0
21
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) melakukan kunjungan ke ruang Rektor Universitas Bengkulu (Unib), Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., pada Senin (17/11).

Bengkulu – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Apt Destita Khairilisani, S.Farm., MSM., melakukan kunjungan ke ruang Rektor Universitas Bengkulu (Unib), Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., pada Senin (17/11). Kehadiran senator disambut langsung oleh Rektor Unib bersama Ketua DWP Unib, Dr. Gushevinalti, S.Sos., M.Si., dan Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama, Prof. Ashar Muda Lubis, S.Si., M.Sc., Ph.

Dalam pertemuan tersebut, senator menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Dr. Indra Cahyadinata sebagai Rektor Unib periode hingga 2029. Ia menyatakan siap berkolaborasi dengan kampus, terutama karena dirinya bertugas di Komite IV DPD RI yang membidangi pendidikan.

Senator menilai Unib memiliki potensi besar untuk memperkuat peran pendidikan tinggi melalui pengabdian masyarakat, pengembangan UMKM, sosialisasi ekspor, serta riset potensi lokal, termasuk sektor kemaritiman dan isu strategis Pulau Enggano sebagai pulau terluar.

Dalam diskusi yang berlangsung cair, Rektor Indra menyampaikan persoalan rantai ekspor komoditas Bengkulu, seperti kopi dan pisang, yang selama ini tercatat sebagai produk dari Lampung karena pengiriman dilakukan melalui pelabuhan di luar daerah.

“Hal ini disayangkan. Tidak salah memang, tapi ada pendapatan wilayah yang hilang. Kalau pelabuhannya bukan di Bengkulu, maka pencatatan ekspornya juga bukan di sini,” ujarnya.

Ia mencontohkan potensi jika Bengkulu dapat menjadi pelabuhan ekspor mandiri sehingga nilai ekonomi bisa kembali ke daerah. Rektor juga menyinggung kendala pendangkalan kolam pelabuhan yang terus berulang dan memakan biaya pengerukan hingga puluhan miliar rupiah setiap tahun.

Menurutnya, perlu kajian jangka panjang terkait pembangunan pelabuhan baru yang lebih efektif sehingga aspirasi ini perlu disampaikan ke pemangku kepentingan.

Potensi Pulau Enggano turut menjadi pembahasan utama. Selain isu logistik dan sedimentasi yang menghambat distribusi, Rektor menyoroti nilai ekonomi produk lokal seperti pisang Enggano, tepung pisang, dan produk UMKM lain yang telah menarik minat pasar.

Mengenai hal ini Senator Destita menyampaikan pernah mengembangkan merek “Pisang Enggano” di Jakarta dan mendapat respons positif, namun terhambat suplai akibat kendala transportasi ke pulau tersebut. Ia pun sepakat jika jalur distribusi dan rantai pasok harus dikelola agar ekonomi lokal pulau Enggano dapat maksimal dirasakan masyarakat.

Diskusi juga membahas pengembangan riset, kuliner lokal, hingga budaya masyarakat pesisir. Senator sepakat jika kolaborasi bersama Unib dapat memperkuat riset dan pemberdayaan masyarakat pulau terluar.

Rektor Indra menyambut baik komitmen tersebut dan berharap kerja sama dapat diperluas, terutama pada agenda pendidikan, pengembangan potensi daerah, serta perbaikan ekosistem ekonomi masyarakat.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]