back to top
Senin, Februari 2, 2026
BerandaBeritaSektor Jasa Keuangan Tetap Resilien, Intermediasi dan Pasar Keuangan Tunjukkan Tren Positif

Sektor Jasa Keuangan Tetap Resilien, Intermediasi dan Pasar Keuangan Tunjukkan Tren Positif

Jakarta — Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 27 November 2025 menilai bahwa stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga. Hal ini tercapai di tengah kondisi ekonomi global yang relatif stabil meski diwarnai tanda-tanda moderasi pada sejumlah kawasan.

Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, terutama di negara-negara maju, meskipun perdagangan dunia cenderung mendatar. Kondisi keuangan global juga tetap longgar sejalan dengan kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Namun demikian, sentimen menuju 2026 masih berhati-hati akibat meningkatnya risiko fiskal dan naiknya imbal hasil obligasi jangka panjang.

Di Amerika Serikat, dinamika ekonomi bergerak beragam pasca penutupan pemerintahan selama 43 hari. Pasar tenaga kerja menunjukkan moderasi, tetapi klaim pengangguran masih rendah. The Fed kembali menurunkan suku bunga 25 basis poin, sembari mempertahankan sinyal hawkish di tengah tekanan inflasi.

Di kawasan Eropa, indikator permintaan dan penawaran cenderung stagnan. Risiko kawasan meningkat akibat gejolak di pasar keuangan Inggris terkait kekhawatiran keberlanjutan fiskal, serta di Perancis yang terdampak instabilitas politik dan penurunan peringkat utang.

Di Tiongkok, beberapa indikator permintaan melemah, dengan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025 melambat serta konsumsi rumah tangga yang tertahan. Penjualan ritel dan aktivitas properti juga mengalami perlambatan.

Sementara itu, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan. Pada triwulan III-2025, ekonomi tumbuh 5,04 persen (yoy), dengan PMI manufaktur tetap berada di zona ekspansi. Namun demikian, perkembangan permintaan domestik perlu terus dicermati seiring moderasi inflasi inti serta melambatnya penjualan ritel, semen, dan kendaraan.

Sepanjang 2025, SJK menunjukkan ketahanan kuat di tengah berbagai dinamika global dan domestik. Di pasar modal, IHSG berhasil pulih dari tekanan pada akhir triwulan I-2025 dan kembali mencatatkan tren kenaikan, didorong respons kebijakan OJK dan BEI seperti relaksasi buyback tanpa RUPS, penyesuaian batas trading halt, dan asymmetric auto rejection. IHSG bahkan menembus beberapa rekor tertinggi sepanjang 2025, mencerminkan optimisme investor.

Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit dan pembiayaan mengalami moderasi, terutama pada segmen yang terdampak perlambatan sektor riil. Premi asuransi, khususnya asuransi jiwa, juga tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, ketahanan industri tetap kuat, ditopang oleh permodalan solid, kecukupan pencadangan, serta risiko yang terjaga. Kondisi ini memberi ruang bagi ekspansi SJK ke depan melalui pendalaman pasar keuangan, perluasan akses pembiayaan, serta penguatan tata kelola dan integritas.

Baca Juga:  Sambut Bulan Kasih, Satgas Damai Cartenz Tebar Kepedulian Lewat Pembagian Sembako

OJK terus mengarahkan SJK untuk mendukung program prioritas pemerintah dengan mengedepankan manajemen risiko yang prudent demi menjaga stabilitas sektor keuangan.

Perkembangan Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Karbon (PMDK)

IHSG Kembali Cetak Rekor Sepanjang 2025
Kinerja pasar modal domestik pada November 2025 melanjutkan tren positif. IHSG ditutup pada level 8.508,71 atau naik 4,22 persen (mtm) dan 20,18 persen (ytd), serta kembali mencatatkan All-Time High di level 8.602,13 pada 26 November 2025. Kapitalisasi pasar mencapai Rp15.711 triliun. Indeks LQ45 tumbuh 2,31 persen (ytd), sementara IDX80 naik 9,38 persen (ytd).

Likuiditas transaksi juga meningkat signifikan. Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham pada November mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, yakni Rp23,14 triliun. Secara ytd, RNTH mencapai Rp17,22 triliun, jauh lebih tinggi dari 2024 (Rp12,85 triliun).

Investor asing membukukan net buy Rp12,20 triliun pada November sehingga secara ytd net sell asing menyempit menjadi Rp29,58 triliun. Ini menunjukkan meningkatnya minat investor global terhadap pasar Indonesia.

Di pasar obligasi, stabilitas tetap terjaga dengan indeks ICBI naik 11,07 persen (ytd). Yield SBN naik tipis 12,28 bps (mtm), tetapi turun 76,08 bps (ytd). Tekanan jual asing di SBN mereda dengan net sell Rp5,93 triliun pada November, jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya.

AUM industri pengelolaan investasi mencapai Rp996,60 triliun (naik 3,11 persen mtm; 19,02 persen ytd), sementara NAB Reksa Dana naik 29,07 persen (ytd) menjadi Rp644,41 triliun. Terdapat net subscription Rp32,61 triliun pada November, terutama pada Reksa Dana berbasis fixed income dan pasar uang.

Jumlah investor juga tumbuh pesat. Terdapat penambahan 476 ribu investor baru pada November, menjadikan total investor 19,67 juta atau naik 32,29 persen (ytd).

Penghimpunan dana korporasi menembus Rp238,68 triliun per November, melampaui target tahunan Rp220 triliun. Sepanjang 2025, terdapat 18 emiten baru dengan nilai fundraising Rp13,30 triliun. Saat ini terdapat 35 pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif Rp32,29 triliun.

Baca Juga:  Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Kinerja Polri Cegah Konflik Meluas dalam Aksi Demonstrasi

Pada SCF, terdapat 26 efek baru dengan dana terhimpun Rp38,03 miliar selama November. Secara akumulatif, sebanyak 951 efek diterbitkan oleh 573 penerbit dengan total dana Rp1,77 triliun.

Pada pasar derivatif keuangan, hingga 28 November 2025 terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip OJK. Volume transaksi November mencapai 73.915 lot, sehingga total volume ytd menjadi 951.682 lot.

Di Bursa Karbon, terdapat 8 pengguna jasa baru, sehingga total menjadi 145. Volume transaksi November bertambah 15.012 tCO2e dengan nilai total akumulasi mencapai Rp79,52 miliar.

OJK dan BEI juga menyelenggarakan CEO Networking 2025 bertema “Managing Global Trade and Empowering Business Strategy”, sebagai bagian dari peringatan 48 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Kegiatan ini dihadiri sekitar 460 CEO dari berbagai pemangku kepentingan pasar modal.

Dari sisi penegakan hukum, OJK mengenakan berbagai sanksi administratif selama November 2025, termasuk denda Rp1.005.000.000 kepada 8 pihak, serta sejumlah peringatan dan perintah tertulis. Secara kumulatif, sepanjang 2025 OJK telah menjatuhkan denda Rp28,94 miliar atas berbagai pelanggaran di pasar modal, serta penindakan administratif lainnya.

Perkembangan Sektor Perbankan (PBKN)

Kredit dan DPK Tumbuh, Risiko Terjaga, Likuiditas Memadai
Pada Oktober 2025, kredit perbankan tumbuh 7,36 persen (yoy) menjadi Rp8.220,21 triliun. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi (15,72 persen), disusul konsumsi (7,03 persen), sementara kredit modal kerja tumbuh 2,39 persen (yoy). Kredit korporasi tumbuh 11,02 persen, sedangkan kredit UMKM terkontraksi 0,11 persen.

Kontributor utama pertumbuhan kredit berasal dari rumah tangga (7,28 persen), industri pengolahan (7,53 persen), serta pertambangan dan penggalian (14,58 persen). Beberapa sektor tumbuh double digit, seperti administrasi pemerintahan (36,79 persen), pengadaan listrik dan gas (26,40 persen), aktivitas profesional (25,32 persen), dan jasa lainnya (22,84 persen).

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh kuat 11,48 persen (yoy) menjadi Rp9.756,6 triliun. Penurunan BI-Rate sejak awal tahun telah mendorong penurunan suku bunga kredit maupun DPK.

Likuiditas perbankan memadai, terlihat dari rasio AL/NCD 130,97 persen dan AL/DPK 29,47 persen, jauh di atas threshold. LCR berada pada level 210,43 persen dan LDR 84,26 persen.

Baca Juga:  Pemprov Bengkulu dan Badan Bank Tanah Matangkan Rencana Pemanfaatan Eks HGU

Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL gross 2,25 persen, NPL net 0,90 persen, dan Loan at Risk (LaR) yang menurun menjadi 9,41 persen. Permodalan industri kuat dengan CAR 26,38 persen.

Kredit BNPL perbankan masih kecil (0,31 persen dari total kredit), tetapi tumbuh 21,03 persen (yoy) dengan baki debet Rp25,72 triliun dan NPL gross 2,50 persen.

Terkait pemberantasan judi online, OJK telah meminta perbankan memblokir ±30.392 rekening berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, serta melakukan EDD dan penutupan rekening yang terindikasi.

Perkembangan Sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP)

Industri PPDP tetap stabil dengan solvabilitas yang solid. Aset industri per Oktober 2025 mencapai Rp1.192,11 triliun (tumbuh 5,16 persen yoy). Aset asuransi komersial mencapai Rp970,98 triliun (naik 6,23 persen yoy).

Pendapatan premi Januari–Oktober 2025 mencapai Rp272,78 triliun (tumbuh 0,42 persen yoy). Premi asuransi jiwa terkontraksi 1,11 persen, sementara asuransi umum dan reasuransi tumbuh 2,33 persen. RBC industri berada jauh di atas ketentuan, yakni 478,85 persen (asuransi jiwa) dan 331,96 persen (asuransi umum dan reasuransi).

Aset asuransi nonkomersial mencapai Rp221,13 triliun. Aset dana pensiun tumbuh 9,82 persen yoy menjadi Rp1.647,49 triliun, dengan program wajib mencapai Rp1.247,05 triliun (tumbuh 11,28 persen).

Nilai aset perusahaan penjaminan mencapai Rp48,02 triliun (tumbuh 3,17 persen yoy).

OJK terus memastikan pemenuhan ketentuan ekuitas sesuai POJK 23/2023. Per Oktober 2025, sebanyak 112 dari 144 perusahaan asuransi dan reasuransi (77,78 persen) telah memenuhi tahap pertama ekuitas minimum 2026. Pengawasan khusus dilakukan terhadap 6 perusahaan asuransi dan reasuransi serta 7 dana pensiun.

Perkembangan Sektor Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML)

Piutang Perusahaan Pembiayaan tumbuh 0,68 persen (yoy) menjadi Rp505,30 triliun, didorong pembiayaan modal kerja yang tumbuh 9,28 persen. Risiko terjaga dengan NPF gross 2,47 persen dan NPF net 0,83 persen. Gearing ratio berada di level aman 2,15 kali.

Pembiayaan modal ventura terkontraksi 0,10 persen (yoy) dengan total Rp16,30 triliun.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

- Advertisment -

[wpforms id="149" title="true" description="true"]