Kamis, Maret 19, 2026
Beranda Ekonomi Sawit dan Program MBG Topang Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

Sawit dan Program MBG Topang Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

0
9
Senator Destita meninjau pelaksanaan Program MBG.

Bengkulu — Di tengah tekanan ekonomi global, Provinsi Bengkulu masih mampu menjaga pertumbuhan ekonominya. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat, pada triwulan III tahun 2025, ekonomi Bengkulu tumbuh 4,56 persen (year on year) dibanding periode yang sama tahun lalu.

Secara kumulatif hingga triwulan III-2025, ekonomi Bengkulu tumbuh 4,80 persen (c-to-c). Namun dibanding triwulan sebelumnya, ekonomi sempat terkontraksi -2,97 persen (qtq) akibat tekanan dari sektor ekspor dan investasi.

Kepala BPS Bengkulu, Win Rizal, menyebut kenaikan harga tandan buah segar (TBS) sawit menjadi faktor utama pendorong ekonomi daerah. “Komoditas sawit masih menjadi penopang utama ekonomi Bengkulu,” ujarnya saat konferensi pers, Rabu (5/11).

Selain sawit, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memberi dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Program dengan anggaran sekitar Rp11,35 miliar ini dinilai mampu menggerakkan konsumsi rumah tangga dan usaha kecil di tingkat lokal.

“MBG melibatkan banyak lapisan masyarakat. Dampaknya terasa di perdagangan dan kegiatan ekonomi warga,” jelas Win Rizal.

BPS juga mencatat peningkatan kunjungan wisatawan ke Bengkulu. Namun, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) justru menurun.

“Wisatawan naik, tapi banyak yang memilih tinggal di rumah kerabat atau akomodasi nonformal. Namun perputaran ekonomi tetap tumbuh,” kata Win.

Sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,59 persen, disusul industri pengolahan sebesar 9,94 persen, dan jasa lainnya sebesar 8,76 persen.

Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian turun -1,44 persen, serta pengadaan air turun -1,53 persen, terutama akibat penurunan permintaan ekspor batu bara.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga non-profit rumah tangga (PK-LNPRT) sebesar 5,61 persen, diikuti konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 5,19 persen.

Investasi fisik (PMTB) tumbuh 3,94 persen, sementara ekspor barang dan jasa turun -1,72 persen.

“Meski ekspor melemah, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Bengkulu,” ujar Win Rizal.

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bengkulu triwulan III-2025 mencapai Rp27,68 triliun atas dasar harga berlaku, dan Rp14,17 triliun atas dasar harga konstan (2010).
Bengkulu menyumbang 2,07 persen terhadap total ekonomi Pulau Sumatera dan menempati peringkat keenam dari sepuluh provinsi di Sumatera dalam pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]