back to top
Minggu, Februari 22, 2026
BerandaPolitikPolemik PD III, Mahfuz Sidik: Dunia Menanti Kabar Terbaru Serangan Amerika ke...

Polemik PD III, Mahfuz Sidik: Dunia Menanti Kabar Terbaru Serangan Amerika ke Iran, Jadi atau Tidak?

Jakarta – Ketua Komisi I DPR 2010-2016 Mahfuz Sidik mengatakan, dunia saat ini menantikan kepastian rencana serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran, apakah benar-benar terjadi atau tidak. Karena serangan tersebut, berpotensi memicu terjadinya perang dunia (PD) III.

“Masalah ini sangat aktual menjadi perbicangan banyak pihak, yang sering dinanti adalah kabar terbaru dari situasi ini, yaitu serangan Amerika ke Iran yang berpotensi memicu terjadinya perang dunia ketiga,” kata Mahfuz Sidik.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Serangan ke Iran: Benarkah Ambang Pintu Perang Dunia III, Jumat (20/2/2026) malam.

Menurut Mahfuz, Iran masuk di dalam tujuh negara yang harus dihancurkan, dilumpuhkan secara politik dan militer untuk kepentingan mewujudkan Israel sebagai kekuatan paling besar dan penjamin kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah (Timteng).

Hal itu terungkap dalam dokumen yang dibocorkan mantan Penglima Nato Jenderal Wesley Clark, bahwa Gedung Putih mengagendakan untuk melancarkan perang militer terhadap tujuh negara dalam 5 tahun pasca serangan 11 September 2001 ke AS.

Baca Juga:  Ulang Tahun ke-6, Partai Gelora Tegaskan Komitmen Menuju Indonesia Super Power Baru

“Secara definitif negara yang disebut itu adalah Irak, Suriah, Libanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran. Ini tujuh negara yang dalam dokumen itu sebagaii target dari perang secara militer,” ungkap Mahfuz.

Mahfuz menilai dari tujuh negara yang belum bisa dilumpuhkan secara militer dan politik, saat ini tinggal Iran saja. Enam negara lainnya sudah bisa dikuasai, bahkan situasi negaranya nyaris porak poranda seperti Libya dan Suriah.

Dokumen tersebut, saat ini dilanjutkan oleh Presiden AS Donald Trump. Trump akan menggunakan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya menyerang Iran.

Trump menganggap Iran sebagai pendukung terorisme global, sehingga AS mengumandangkan ‘global war terrorism’, yang disebutnya sebagai pendekatan baru di era perang dingin.

Dokumen lainnya, yang dijadikan dasar Trump untuk menyerang Iran adalah dokumen yang disusun oleh satu tim politisi senior, advisor senior di Washington DC untuk Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.

“Dokumen tersebut, mereposisi peta Timur Tengah dan menjadikan Israel sebagai kekuatan paling dominan di Timur Tengah. Dan Iran sebagai ‘the last stone of the region’, sebagai batu terakhir yang masih menjulang kokoh di kawasan Timur Tengah, yang menjadi ancaman bagi Israel,” katanya.

Baca Juga:  Koperasi Merah Putih Jadi Sejarah Baru dalam Membangun Fondasi Ekonomi Bangsa

Mahfuz menilai strategi yang dijalankan Trump tersebut, menjadi tantangan dan ancaman besar bagi dunia. Sebab, Iran berbeda dengan enam negara yang telah dilumpuhkan AS sebelumnya.

“Iran ini punya nuklir, punya rudal balistik, pasukan garda revolusinya sangat kuat dekat dengan Rusia dan China yang siap untuk membantu Iran. Iran juga menguasai Selat Hormuz, kalau ditutup jalur distribusi dunia akan terganggu,” ujarnya.

Bahkan Iran mengancam akan menyerang seluruh pangkalan militer AS di Timteng. Belum lagi Iran juga didukung kelompok poros perawanan di Timteng seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, Palestina.

“Amerika dan Israel sedang berhadap-hadapan dengan Iran hari demi hari. Mereka sedang menghitung kapan dimulai peperangan. Jika mereka nekat, maka bisa dipastikan serangan Amerika dan Israel ke Iran ini akan menjadi pemantik bagi terjadinya perang dunia ketiga,” tegasnya.

Ia menegaskan, publik AS juga semakin sadar bahwa kebijakan politik Amerika di bawah kepemimpinan Trump saat ini merupakan refleksi dari kepentingan Israel, bukan kepentingan Amerika, sehingga tidak memiliki legitimasi secara politik.

Baca Juga:  Teddy Gustianto Optimis Optimalisasi Pelayanan Publik dan Infrastruktur Berbasis Teknologi di Seluma

“Nah, apa yang harus dilakukan Indonesia? Saya kira Indonesia harus mengkalkulasi secara hati-hati, tidak boleh terjebak dalam politik aliansi. Kemudian memitigasi resiko,jika perang ini betul-betul terjadi. Karena salah satu faktornya kita masih punya ketergantungan terhadap impor minyak,” pungkasnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

- Advertisment -

[wpforms id="149" title="true" description="true"]