Kamis, Maret 19, 2026
Beranda Bisnis Pertamina Sumbagsel Perkuat Konservasi Pesisir Bengkulu Lewat Program TJSL

Pertamina Sumbagsel Perkuat Konservasi Pesisir Bengkulu Lewat Program TJSL

0
11
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terus menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian ekosistem pesisir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Bengkulu – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terus menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian ekosistem pesisir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah dukungan terhadap Rifi Zulhendri atau Atuk, pegiat lingkungan asal Bengkulu yang selama ini konsisten menjaga kelestarian mangrove. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperluas konservasi sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

Melalui program TJSL, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel memberikan bantuan berupa bibit mangrove, peralatan, hingga pelatihan pembibitan untuk memperkuat gerakan konservasi yang dirintis oleh Atuk. Dukungan ini juga memperluas jangkauan kampanye pelestarian kepada kelompok masyarakat, pelajar, komunitas lingkungan, hingga mahasiswa pecinta alam dari berbagai perguruan tinggi.

“Dukungan kami tidak hanya pada aspek lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan pembibitan dan penanaman mangrove, kami ingin masyarakat merasakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga ekosistem pesisir,” ujar Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel.

Hingga saat ini, sebanyak 2.025 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata telah ditanam di Pantai Mangrove Pulau Baai, Bengkulu. Secara estimasi, penanaman tersebut mampu menyerap hingga 750 ton CO₂ dalam lima tahun serta memperkuat perlindungan pesisir dari risiko abrasi dan gelombang tinggi.

Tak hanya berfokus pada lingkungan, program ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui kegiatan pembibitan mangrove, warga dapat memperoleh tambahan pendapatan, dengan harga per bibit Rp1.000 dan kemampuan menghasilkan hingga 100 polybag per hari. Model pemberdayaan ini mendorong masyarakat untuk terlibat aktif sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi berbasis konservasi.

Atuk, sebagai mitra binaan Pertamina, menuturkan bahwa program ini menghadirkan perubahan besar bagi masyarakat pesisir.

“Harapan kami sederhana, pesisir tetap hijau, laut tetap lestari, dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Melalui dukungan Pertamina, kegiatan mangrove ini semakin berkembang dan semakin banyak warga yang terlibat,” ungkapnya.

Rivai, seorang warga pesisir, juga merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

“Dulu saya hanya nelayan biasa. Sekarang saya bisa membuat bibit mangrove dan mendapat tambahan penghasilan. Ini sangat membantu keluarga, sambil tetap menjaga laut kami,” ujarnya.

Untuk memperluas dampak sosial dan edukatif, Atuk mendirikan Yayasan Kumala Raflesia Lestari sebagai pusat konservasi dan pendidikan mangrove. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel mendukung yayasan tersebut sebagai mitra strategis dalam mengimplementasikan pemberdayaan pesisir secara menyeluruh.

Kolaborasi antara Pertamina dan masyarakat pesisir Bengkulu ini selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan Tujuan 14 (Ekosistem Lautan). Program ini membuktikan bahwa pendekatan pemberdayaan yang tepat tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]