JAKARTA – Produk madu hasil usaha Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qur’an Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, mendapat perhatian Menteri Agama RI Nasaruddin Umar saat mengunjungi stan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Bengkulu dalam ajang Indonesia Ekonomi Syariah (IES) 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Dalam kunjungan tersebut, Nasaruddin melihat langsung sejumlah produk unggulan madrasah dan pondok pesantren asal Bengkulu. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah madu produksi Ponpes Nurul Qur’an Kabupaten Lebong.

Menag mengapresiasi upaya pondok pesantren dalam mengembangkan usaha produktif sebagai bagian dari penguatan kemandirian ekonomi. Ia berharap produk yang dihasilkan pesantren terus dikembangkan dari sisi kualitas, kemasan, inovasi hingga pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Menurutnya, pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Kunjungan Menag ke stan Bengkulu disambut Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Saefudin, didampingi Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Hamdani, Ketua Tim Kurikulum Bidang Madrasah Syafruni, Ketua Tim Kesiswaan Emil Yadi, serta sejumlah kepala madrasah.

Baca Juga:  Moderasi Beragama Jadi Jalan Tengah Merawat Perbedaan

IES 2026 diselenggarakan Direktorat Zakat dan Wakaf Badan Pengelola Masjid Istiqlal bersama sejumlah mitra pada 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Saefudin menyampaikan terima kasih atas perhatian dan apresiasi Menteri Agama terhadap produk pesantren asal Bengkulu tersebut. Ia mengatakan, keikutsertaan dalam IES 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi dan hasil usaha lembaga pendidikan Islam di Bengkulu kepada masyarakat luas.

Menurut Saefudin, madu produksi Ponpes Nurul Qur’an Lebong merupakan salah satu contoh pengembangan potensi ekonomi pesantren yang perlu mendapat dukungan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menunjukkan bahwa pondok pesantren tidak hanya berperan dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia, tetapi juga mampu mengembangkan potensi ekonomi melalui berbagai produk unggulan,” ujarnya.

Ia berharap apresiasi Menteri Agama dapat menjadi motivasi bagi pondok pesantren lainnya di Bengkulu untuk mengembangkan usaha produktif. Selain itu, partisipasi dalam IES 2026 diharapkan membuka peluang kerja sama, memperluas jaringan pemasaran, dan meningkatkan daya saing produk madrasah serta pesantren.

Baca Juga:  PP Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha 1447 H

Saefudin menambahkan, keikutsertaan Kanwil Kemenag Bengkulu dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung penguatan ekonomi syariah dan mendorong pesantren agar semakin mandiri serta berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat.