Bengkulu – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Dr. H. Saefudin, S.Ag., M.Si., menegaskan moderasi beragama menjadi salah satu jalan tengah dalam menyikapi perbedaan di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Pesan tersebut disampaikan Saefudin saat menghadiri kegiatan “Transformasi Ideologi, Jalan Menuju Wasathiyah” dengan tema “Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat & Moderat” yang digelar Densus 88 Antiteror di Hotel Mercure Kota Bengkulu, Selasa (6/10).
Saefudin mengatakan kesadaran ideologi yang sehat dan moderat penting dibangun agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik. Sebaliknya, perbedaan harus dapat menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan.
“Kegiatan ini kita maknai sebagai upaya untuk mencari jalan tengah, bukan untuk saling menyalahkan. Kita harus mampu menerima perbedaan dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan bersama. Wasathiyah itu adalah sikap pendamai dan penengah,” ujar Saefudin.
Menurutnya, penguatan moderasi beragama bukan berarti melakukan moderasi terhadap agama. Sebab, tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan, melainkan mengajarkan nilai-nilai perdamaian, kebaikan, dan kehidupan yang harmonis.
“Yang dimoderasi bukan agamanya. Tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan. Yang diajarkan adalah perdamaian. Moderasi beragama hadir sebagai solusi dalam menyikapi perbedaan agama yang ada di tengah masyarakat kita,” jelasnya.
Saefudin menyebut sikap moderat setidaknya tercermin melalui empat indikator utama, yakni komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, serta penghargaan terhadap kearifan lokal atau local wisdom.
Pertama, komitmen kebangsaan ditunjukkan melalui kecintaan terhadap bangsa dan negara serta kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok. Komitmen tersebut menjadi salah satu dasar dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Kedua, anti kekerasan, yakni kemampuan menyelesaikan persoalan dan perbedaan melalui dialog, musyawarah, serta pendekatan damai, bukan melalui tindakan kekerasan.
“Kalau ada persoalan dan perbedaan, mari kita selesaikan dengan dialog. Jangan menggunakan kekerasan. Dialog membuka ruang untuk saling memahami, sementara kekerasan justru memperlebar jarak dan menimbulkan persoalan baru,” tegasnya.
Ketiga adalah toleransi, yaitu kesadaran untuk menerima kenyataan bahwa masyarakat memiliki perbedaan agama, keyakinan, latar belakang, maupun pandangan. Toleransi tidak berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi memberikan ruang kepada setiap orang untuk menjalankan keyakinannya dengan tetap menghormati hak orang lain.
Indikator keempat adalah menghargai kearifan lokal. Menurut Saefudin, nilai-nilai lokal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi kekuatan sosial dalam membangun kehidupan yang rukun, damai, dan saling menghargai.
“Kearifan lokal adalah kekayaan kita. Nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat perlu kita rawat karena di dalamnya terdapat semangat kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Ini harus menjadi bagian dari upaya kita membangun kehidupan yang moderat,” ungkapnya.
Kegiatan yang mengangkat isu transformasi ideologi tersebut dinilai relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat saat ini. Perkembangan teknologi informasi dan media sosial membuat berbagai gagasan dan paham dapat menyebar dengan cepat sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi dan memahami perbedaan secara bijak.
Kakanwil mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan moderasi beragama sebagai gerakan bersama. Pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, aparat keamanan, serta masyarakat memiliki peran dalam menciptakan ruang sosial yang damai dan bebas dari kekerasan.
“Kita tidak mungkin menghilangkan perbedaan. Yang harus kita bangun adalah kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Di situlah pentingnya moderasi, karena moderasi mengajarkan kita untuk tidak ekstrem, mampu menghargai perbedaan, dan tetap menjaga persatuan,” pungkasnya.

Berita Terbaru
1.173 Wisudawan/Wisudawati Lulus dari Poltekkes Kemenkes Bengkulu
Rekomendasi Tukang Taman Terpercaya di Depok
Pembiayaan UMKM Nasional Capai Rp1.949 Triliun
Hijaukan Pulau Baai, Karantina Bengkulu Tanam 149 Pohon
Bupati Teddy Rahman Dukung Lomba Fashion Show Batik Jadi Wadah Kenalkan Budaya Daerah Sejak Dini
Penyelesaian Konflik Agraria di Bengkulu Terus Bergulir