Kamis, Maret 19, 2026
Beranda Pendidikan Kemendikdasmen Tegaskan Tidak Ada Kurikulum Baru

Kemendikdasmen Tegaskan Tidak Ada Kurikulum Baru

0
14
Dialog Kebijakan bersama media massa di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (18/7/2025).

Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan hingga saat ini pemerintah belum memberlakukan kurikulum baru di sekolah-sekolah Indonesia. Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka tetap menjadi acuan utama pembelajaran, termasuk di wilayah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan).

Hal ini disampaikan Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Laksmi Dewi, dalam Dialog Kebijakan bersama media massa di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (18/7/2025).

“Kurikulum tidak ada yang baru atau perubahan nama. Yang berlaku masih K13 dan Kurikulum Merdeka. Untuk daerah 3T, K13 masih digunakan hingga tahun ajaran 2026–2027,” jelas Laksmi.

Laksmi juga menegaskan bahwa deep learning bukan kurikulum baru, melainkan metode pembelajaran mendalam yang bertujuan memperbaiki kualitas belajar-mengajar. Pendekatan ini menekankan pembelajaran bermakna dengan fokus pada pengembangan karakter, kesadaran, dan kegembiraan belajar, bukan hanya banyaknya materi.

“Karena ingin mendalam, materi pelajaran tidak boleh terlalu banyak. Siswa harus benar-benar memahami dan menikmati proses belajar,” ujar Laksmi.

Metode ini diadopsi dari praktik di negara seperti Australia, Kanada, dan Swedia, yang terbukti mampu meningkatkan kualitas lulusan.

Untuk mendukung implementasi deep learning, BSKAP bersama Direktorat Jenderal GTKPG telah melatih sekitar 200 narasumber nasional. Narasumber ini akan melatih guru di seluruh Indonesia secara bertahap melalui pelatihan cloning dan webinar daring.

“Sosialisasi dilakukan bertahap mulai dari Aceh hingga Papua,” tambah Laksmi.

Tujuan akhirnya adalah membentuk profil lulusan dengan delapan dimensi kompetensi utama: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, kreativitas, kemandirian, komunikasi, kesehatan, kolaborasi, dan penalaran kritis.

Pendekatan ini diharapkan menjawab masalah schooling without learning, yaitu bersekolah tanpa mengalami pembelajaran bermakna.

“Secara teori bisa berhasil, tapi praktiknya bergantung pada guru, keluarga, dan lingkungan,” pungkas Laksmi.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]