back to top
Rabu, Februari 11, 2026
BerandaKota BengkuluIntegrasi Lele dan Maggot Bisa Jadi Solusi Atasi Masalah Sampah

Integrasi Lele dan Maggot Bisa Jadi Solusi Atasi Masalah Sampah

Bengkulu – Pemerintah Kota Bengkulu di bawah kepemimpinan Wali Kota Dedy Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny Ramli terus mendorong pendekatan baru dalam penanganan persoalan sampah dengan menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal.

Sebagai langkah konkret, Wali Kota Bengkulu menyatakan ketertarikannya menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Bina Hijau Mandiri untuk menerapkan program budidaya maggot dan ikan lele di seluruh kelurahan. Program ini diproyeksikan menjadi solusi ganda, yakni mengurangi volume sampah sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi warga.

Skema yang ditawarkan mengusung konsep ekonomi sirkular, di mana sampah organik rumah tangga diolah menjadi pakan maggot. Maggot tersebut selanjutnya dimanfaatkan sebagai sumber protein utama dalam budidaya ikan lele, sehingga menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.

Dalam pelaksanaannya, setiap rumah tangga sasaran akan mendapatkan dukungan sarana produksi berupa bioplog berdiameter dua meter sebagai media budidaya. Selain itu, warga juga akan dibekali sekitar 1.000 ekor benih lele, aerator, serta sistem pakan mandiri berbasis maggot hasil pengolahan sampah organik rumah tangga.

Baca Juga:  Walikota Bengkulu Respon Keluhan Warga Terkait Gangguan Air Akibat Perbaikan IPA 2 Surabaya

Pemateri dari Yayasan Bina Hijau Mandiri menjelaskan bahwa penggunaan maggot membuat biaya budidaya menjadi sangat efisien. Pakan lele tidak lagi bergantung pada produk komersial, karena maggot dapat diproduksi dari sampah hanya dalam waktu sekitar tiga minggu.

Dari sisi hasil, program ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 250 kilogram ikan lele per bioplog dalam masa panen 2,5 bulan. Warga diberikan berbagai pilihan hilirisasi, mulai dari penjualan lele segar dengan potensi pendapatan sekitar Rp5 juta, pengolahan abon lele, nugget lele dengan potensi pendapatan hingga Rp8 juta, hingga produk fillet dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Selain meningkatkan pendapatan keluarga, program ini juga berpotensi menyerap tenaga kerja lokal. Setiap rumah produksi di tingkat kelurahan diperkirakan membuka hingga 12 lapangan kerja, mulai dari pengangkutan sampah, pengelolaan maggot, hingga pengolahan hasil perikanan.

Sebagai bentuk penguatan komitmen, Pemerintah Kota Bengkulu menyiapkan skema apresiasi bagi wilayah yang berhasil menjalankan program secara optimal. Wali Kota Dedy Wahyudi menegaskan bahwa pada akhir 2026 akan dilakukan evaluasi menyeluruh, di mana lurah paling aktif dan sukses akan mendapatkan hadiah ibadah umrah serta peluang kenaikan jabatan.

Baca Juga:  Bank Sampah Jadi Solusi Lingkungan dan Ekonomi Warga Bengkulu

Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Kesehatan. Selain berdampak pada kebersihan kota dan kesejahteraan warga, program ini juga diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi kelurahan dan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bengkulu.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

- Advertisment -

[wpforms id="149" title="true" description="true"]