Bengkulu – Di hadapan puluhan guru dalam pelatihan “AI Goes To School” di Universitas Bengkulu, Ketua Korwil Mafindo Bengkulu, Gushevinalti, meluruskan salah kaprah yang sering terjadi di masyarakat mengenai Kecerdasan Artifisial (KA).
“Banyak yang mengira AI itu robotnya. Padahal, AI adalah algoritma di dalam mesin itu, bukan fisik robotnya. Ini fondasi pemahaman yang harus kita pegang sebelum melangkah lebih jauh,” ujar Gushevinalti, Selasa (25/11/2025).
Dalam paparannya, Gushevinalti menjelaskan lanskap teknologi ini secara runut. Mulai dari Artificial Intelligence umum, mengerucut ke Machine Learning (mesin yang belajar dari data), Deep Learning (jaringan saraf tiruan), hingga yang paling mutakhir adalah Generative AI .
“Generative AI ini spesial karena bisa menciptakan konten baru—baik teks, gambar, audio, maupun video—yang sebelumnya tidak ada dalam database. Contohnya seperti ChatGPT atau alat pembuat gambar yang menggunakan Large Language Models (LLMs),” paparnya.
Namun, ia juga mengingatkan dua sisi mata uang teknologi ini. Di satu sisi, AI meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan personalisasi. Di sisi lain, ada risiko keamanan privasi, potensi bias data, hingga kekhawatiran membuat manusia menjadi malas dan kurang kreatif .
“AI sudah menjadi gaya hidup, bukan sekadar tren. Kuncinya adalah pemanfaatan yang etis tanpa menghilangkan peran unik kecerdasan manusia,” pungkasnya.
Di sisi lain, Trainer Mafindo Bengkulu, Iyud Dwi Mursito, mendemonstrasikan bagaimana Kecerdasan Artifisial (KA) mampu mengubah guru biasa menjadi konten kreator andal dalam hitungan menit.
Dalam sesi tentang Pembelajaran Kreatif, Iyud menunjukkan kecanggihan AI dalam dunia seni musik. “KA dapat digunakan untuk membuat musik dengan memanfaatkan algoritma komputer, mulai dari penciptaan, produksi, hingga distribusi,” jelasnya.
Iyud mempraktikkan bagaimana AI mampu membuat melodi, harmoni, menulis lirik lagu, bahkan menghasilkan vokal sintesis tanpa penyanyi asli. Sebagai contoh, ia menampilkan prompt untuk membuat lagu Paduan Suara yang penuh energi untuk materi Seni Musik Kelas 11.
Tak hanya musik, Iyud juga mencontohkan pembuatan video animasi untuk pelajaran Biologi Kelas 12 tentang faktor pertumbuhan tanaman.
“Dengan bantuan KA, proses pembuatan konten edukatif bisa lebih cepat, efisien, dan menarik secara visual tanpa memerlukan keahlian khusus seperti desainer grafis,” tegas Iyud.


