
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fundamental ekonomi Indonesia terus menunjukkan ketahanan yang solid. Pada kuartal II 2025, perekonomian tumbuh 5,12 persen year-on-year (yoy), dengan pertumbuhan sepanjang semester I 2025 mencapai 4,99 persen.
Hal tersebut disampaikan Airlangga dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9/2025).
Menurutnya, sejumlah indikator utama menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia. Pertama, PMI Manufaktur meningkat ke level ekspansif 51,5 pada Agustus 2025, didorong oleh kenaikan output dan permintaan baru. Sebelumnya, PMI sempat tertekan di level 46,7 pada April, 47,4 pada Mei, 46,9 di Juni, dan 49,2 pada Juli 2025.
Kedua, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat momentum penguatan sepanjang pekan lalu dan bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi 8.000. “Penurunan hanya terjadi saat demo besar hari Jumat. Pemerintah yakin optimisme ini masih ada dan harus kita jaga,” jelas Airlangga.
Data BEI menunjukkan IHSG pada 25 Agustus berada di level 7.926 (+0,87%), naik ke 7.952 (+0,2%) pada 28 Agustus, sebelum terkoreksi ke 7.830 (-1,53%) pada 29 Agustus 2025.
Ketiga, inflasi tetap terkendali di kisaran 2,37 persen hingga Juli 2025. Pemerintah optimistis inflasi Agustus yang akan segera dirilis juga masih stabil.
Keempat, nilai tukar rupiah terjaga di level Rp16.490 per USD, meski terdepresiasi 2,35 persen sejak awal tahun.
Kelima, neraca perdagangan konsisten mencatat surplus, dengan data Agustus 2025 akan diumumkan pada hari ini.
Keenam, konsumsi domestik tetap kuat seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, belanja ritel baik offline maupun online, serta dukungan stimulus daya beli.
Ketujuh, investasi terus meningkat, tercermin dari lonjakan impor barang modal sebesar 32,5 persen yoy pada kuartal II 2025 serta pertumbuhan industri pengolahan sebesar 5,08 persen yoy. “Ini menunjukkan adanya pembangunan pabrik dan fasilitas produksi baru, yang berpotensi mendorong ekspansi di kuartal III 2025,” kata Airlangga.
Selain itu, tingginya perputaran uang dan transaksi keuangan di berbagai provinsi juga menandakan aktivitas ekonomi yang masih tinggi secara spasial.
“Terkait dinamika sosial dan politik saat ini, dengan fundamental ekonomi yang solid, pemerintah yakin dampaknya terhadap perekonomian hanya bersifat jangka pendek dan akan segera membaik,” tegas Airlangga.






