Sulawesi Tengah – Forum koordinasi pencegahan terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad) Palu mendiskusikan narasi multikulturalisme.
Kegiatan yang digelar di Kampus Untad Palu, Senin, menghadirkan akademisi dari Universitas Indonesia (UI) Dr Amanah Nurish sebagai dosen kajian terorisme. Kegiatan kuliah tamu mengusung tema penguatan narasi multikulturalisme dalam perspektif hak asasi manusia (HAM).
Ketua FKPT Sulteng Sofyan Bachmid mengatakan, kegiatan kuliah tamu itu sangat tepat dan memberikan nilai positif bagi masyarakat, dalam memahami multikulturalisme di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah.
Lanjut dia, sebuah perbedaan adalah keniscayaan, sehingga perbedaan itu tidak bisa dihindari, tetapi merupakan rahmat dan saling melengkapi.
“Jangan jadikan perbedaan kearah negatif. Piagam Madinah contohnya, memberikan kesempatan bagi kaum Yahudi untuk bebas dan dijaga serta dihormati oleh kaum Muslimin,” jelasnya.
Piagam Madinah di zaman Nabi Muhammad SAW, kata Sofyan, mencakup berbagai kelompok masyarakat, termasuk umat Islam, Yahudi, dan suku-suku Arab lainnya untuk dijaga dan saling menjaga dan menghormati satu sama lain.
“Piagam Madinah Ini menunjukkan penghormatan terhadap keberagaman agama dan budaya di Madinah,” ungkapnya.
Kondisi Madinah saat itu, kata dia, merupakan cerminan Indonesia saat ini. Sehingga penting bagi semua elemen untuk saling menghormati dan saling menjaga.
“Membangun komunikasi adalah penting dalam menjaga multikulturalisme ini,” ujarnya.
Dengan adanya kuliah tamu tersebut, Sofyan berharap, dapat memberikan pencerahan kepada para pihak, mahasiswa, dosen dan masyarakat sehingga mampu mencegah Masyarakat terpapar aksi-aksi radikal dan terorisme.
Sementara Dekan Fakultas Hukum Untad Palu Awaluddin menyambut baik kegiatan tersebut. Dia mengatakan bahwa kebebasan beragama, hubungan antar kelompok, kewajiban mempertahankan kesatuan hidup, menjadi penting untuk terus dijaga agar tercipta perdamaian di dunia.
“Kegiatan kuliah tamu ini menjadi point penting untuk menjaga perdamaian dalam multikulturalisme dan tentu menghargai keberagaman budaya dalam masyarakat Sulawesi Tengah,” katanya.
Sementara itu, akademisi Universitas Indonesia (UI) Jakarta Amanah Nurish mengapresiasi antusias peserta kuliah umum terkait kajian multikulturalisme.
“Saya kira diskusi seperti ini lebih sering dilaksanakan. Karena masyarakat mempunyai ketertarikan diskusi yang sangat kuat,” katanya.
Dia pun merekomendasikan kepada pemerintah daerah dan semua lembaga serta pengambil kebijakan, untuk memperkuat kolaborasi dan kegiatan bersama dalam menyampaikan narasi-narasi positif di masyarakat.

Berita Terbaru
Mulai Desember, Pengiriman CPO Wajib Berlabel Asal Bengkulu
Pasca Pengamanan Unjuk Rasa, Wakapolda Bengkulu Pimpin Aksi Bersih-Bersih: Wujud Kepedulian Polri terhadap Lingkungan
Petani Mukomuko Terima Combine Harvester, Biaya Panen Bisa Hemat Rp2,3 Juta per Hektare
Walikota Dedy Wahyudi Lepas 64 Atlet Kota Bengkulu ke POPDA 2026
Walikota Dedy Wahyudi Siapkan Larangan ASN Gunakan Vape di Lingkungan Pemkot Bengkulu
Opini Gede Pasek Suardika: Sadapan dan Kekuasaan