Bengkulu – Kinerja ekspor Provinsi Bengkulu mengalami penurunan tajam sepanjang periode Januari–Agustus 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, nilai ekspor tercatat hanya mencapai US$64,59 juta, turun 46,88 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$121,60 juta.
Jika dikonversi dengan kurs rata-rata Rp16.660 per dolar AS, maka nilai penyusutan ekspor Bengkulu dalam delapan bulan pertama tahun 2025 mencapai sekitar Rp1 triliun.
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Ir. Win Rizal, M.E., dalam rilis Berita Statistik edisi Oktober 2025, menjelaskan bahwa penurunan ekspor terutama disebabkan oleh lesunya sektor pertambangan dan sektor industri pengolahan.
“Ekspor nonmigas pada sektor industri pengolahan turun sebesar 15,49 persen, dari US$8,07 juta menjadi US$6,82 juta. Sedangkan sektor pertambangan dan lainnya merosot tajam hingga 50,30 persen, dari US$113,50 juta menjadi US$56,41 juta,” jelas Win Rizal.
Meskipun dua sektor utama ekspor tersebut menurun, BPS mencatat adanya kabar positif dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang justru mengalami peningkatan signifikan. Nilainya melonjak 4.577,05 persen, dari US$0,03 juta pada Januari–Agustus 2024 menjadi US$1,36 juta pada periode yang sama tahun ini.
“Peningkatan sektor pertanian menjadi sinyal positif di tengah turunnya ekspor dari sektor lain. Komoditas seperti kopi dan hasil laut memberi kontribusi penting,” tambahnya.
Sementara itu, untuk kinerja bulanan, ekspor Bengkulu pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$6,82 juta, atau naik 73,71 persen dibanding Juli 2025 yang hanya mencapai US$3,93 juta.
Namun jika dibandingkan dengan Agustus tahun lalu, kinerjanya masih menurun cukup dalam. “Nilai ekspor Agustus 2025 turun 51,45 persen dibanding Agustus 2024 yang mencapai US$14,05 juta,” ujar Win Rizal.
BPS menilai tren penurunan ekspor ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi sektor-sektor unggulan daerah yang selama ini menjadi penopang ekonomi Bengkulu. Penguatan industri hilir, diversifikasi produk ekspor, serta peningkatan daya saing komoditas lokal dinilai penting untuk memperbaiki kinerja ekspor di sisa tahun 2025.







