Bengkulu – Dalam beberapa hari terakhir, warga Kota Bengkulu mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih menyengat, terutama pada siang hari. Berdasarkan pantauan, suhu berkisar antara 18 hingga 34 derajat Celcius, dengan kelembaban relatif menurun, menyebabkan sensasi panas makin terasa.
Menanggapi fenomena ini, Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno Bengkulu memberikan penjelasan resmi. Forecaster Dyah Rizky mengungkapkan bahwa suhu panas tersebut merupakan indikasi awal dari datangnya musim kemarau yang diprediksi lebih cepat dari biasanya.
“Berdasarkan rilis dari Stasiun Klimatologi Bengkulu, kita akan memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung dari Juni hingga Agustus 2025. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara, khususnya pada siang hari,” jelas Dyah, 20 Mei 2025.
Ia menambahkan secara keseluruhan, Provinsi Bengkulu terbagi dalam 18 Zona Musim (ZOM), terdiri dari 10 zona bertipe Monsunal dan 8 zona bertipe Ekuatorial. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada pertengahan tahun, namun dengan durasi yang lebih pendek, yakni hanya sekitar tiga hingga enam dasarian (10–20 hari per dasarian).
Selain faktor musiman, Dyah menjelaskan bahwa dinamika atmosfer global turut memengaruhi kondisi cuaca panas di wilayah Bengkulu. Indeks IOD (Indian Ocean Dipole) tercatat sebesar 0.541, sedangkan indeks ENSO (El Niño Southern Oscillation) di wilayah Nino3.4 menunjukkan angka -0.06. Kedua indikator ini memberikan kontribusi terhadap anomali suhu dan pola curah hujan di Indonesia, termasuk Bengkulu.
Mengingat tingginya paparan sinar matahari, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri selama periode ini.
Warga disarankan menggunakan pelindung diri seperti tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan, menghindari paparan langsung matahari dalam waktu lama, serta mencukupi asupan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi.


