Bengkulu – Menindaklanjuti hasil razia Pekerja Seks Komersial (PSK) yang berpraktik di sejumlah kos-kosan, Camat Ratu Agung, Subhan Gusti Hendri, menginstruksikan seluruh lurah di wilayahnya untuk memperketat pengawasan.
“Perintah pak wali kota sudah sangat jelas, kita ingin menekan angka penyebaran HIV di kota ini,” ujar Subhan, Selasa (17/2).
Sebagai pimpinan wilayah, Subhan menegaskan tidak ingin praktik prostitusi terjadi di Kecamatan Ratu Agung. Diketahui, di kecamatan tersebut terdapat delapan kelurahan dengan sekitar 500 kamar kos di setiap kelurahan. Banyaknya kos-kosan dipengaruhi letaknya yang strategis di tengah kota, dekat perkantoran, sekolah, dan kampus.
Temuan di salah satu kos di Kelurahan Kebun Beler beberapa waktu lalu membuka fakta bahwa praktik prostitusi terselubung sudah sangat dekat dengan lingkungan masyarakat. Transaksi dilakukan secara daring melalui aplikasi kencan sehingga nyaris tidak terdeteksi secara langsung.
“Saya sudah instruksikan kepada lurah untuk mendata kembali usaha kos-kosan, pemilik, dan penghuninya. Ketua RT dan RW juga kita libatkan. Jangan sampai ketika ditanya soal kegiatan warganya malah tidak tahu. Kita harus lebih peka. Jika ada pelanggaran, seperti kos yang tidak sesuai peruntukannya, akan kita beri sanksi,” tegasnya.
Dalam pelaksanaannya, pihak kecamatan juga akan melibatkan aparat keamanan dan tokoh masyarakat, seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, imam masjid, serta tokoh masyarakat lainnya.
Langkah ini diambil setelah tim gabungan Pemerintah Kota Bengkulu menemukan adanya praktik prostitusi terselubung melalui aplikasi kencan yang menggunakan kos-kosan sebagai lokasi praktik. Razia tersebut awalnya bertujuan melakukan skrining HIV terhadap warga yang dinilai rentan dan berpotensi terpapar.
Dalam razia itu, petugas mengamankan beberapa perempuan, di antaranya berusia 17 dan 19 tahun. Seorang wanita lain di kamar berbeda sempat menolak mengikuti tes HIV dengan alasan bukan PSK, sementara dua perempuan lainnya ditemukan berada di dalam kamar bersama pasangan masing-masing.
Saat tes HIV berlangsung, Dedy Wahyudi tiba di lokasi dan menemui langsung para penghuni kos. Ia menanyakan identitas serta alasan mereka terlibat dalam praktik tersebut. Salah satu perempuan mengaku berasal dari Bengkulu Tengah, sementara lainnya berdomisili di kawasan Hibrida sesuai KTP.
Wali Kota juga menegur Ketua RT setempat yang dinilai kurang peduli terhadap kondisi lingkungan. Menurut Dedy, tes HIV dilakukan karena terjadi peningkatan jumlah penderita HIV di Kota Bengkulu, sehingga diperlukan langkah pencegahan yang lebih serius dan terstruktur.


