Bengkulu – Delegasi perusahaan perhotelan Jepang, IMF Tokyo, mengunjungi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Kaizu Hamagi Gakkou di kawasan Lintas Nakau–Sebakul, Kota Bengkulu, Kamis (21/8). Rombongan dipimpin Direktur Endo Sachou dan Wakil Direktur Yamaguchi Fukusachou.
Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung proses pelatihan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipersiapkan bekerja secara legal di Jepang.
Kasi Penempatan dan Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) Disnakertrans Provinsi Bengkulu, Alpian Nasrullah, menyambut baik kedatangan delegasi Jepang. Ia menegaskan pemerintah daerah mendukung penuh keberadaan LPK dalam memutus mata rantai pengiriman PMI ilegal.
“Minat pemuda Bengkulu bekerja di Jepang sangat tinggi. Karena itu, LPK seperti Kaizu sangat penting. Kami juga terus diminta gubernur untuk memantau LPK agar benar-benar memberi pendidikan dan pengawasan bagi calon PMI,” kata Alpian.
Fasilitator TKA Jepang–Indonesia, Zaenal Arifin, menilai metode pelatihan di Kaizu lebih unggul dibandingkan lembaga sejenis di daerah lain. Ia berharap ujian Global Field Test (GFT) bisa dilaksanakan di Bengkulu agar peserta tidak perlu ke Jakarta.
“Kalau hanya mengejar uang, hasilnya terbatas. Tetapi kalau mereka membawa pulang ilmu dan pengalaman, itu bisa menjadi modal besar membuka usaha atau lapangan kerja di Bengkulu,” ujarnya.
Ketua LPK Kaizu Hamagi Gakkou, Afrianto Santoso, menyebut kunjungan delegasi Jepang menunjukkan keseriusan mereka merekrut tenaga kerja asal Bengkulu.
“Mereka ingin langsung melihat calon karyawan. Bahkan ada yang sudah lulus wawancara dan tinggal menunggu keberangkatan. Sebelumnya kami sudah memberangkatkan enam siswa ke Jepang. Semoga ini menjadi pintu bagi lebih banyak anak muda Bengkulu bekerja di hotel-hotel bintang lima di Jepang,” jelas Afrianto.
Ia menambahkan, LPK Kaizu mempersiapkan PMI dengan keterampilan praktis, mulai dari pelatihan bahasa Jepang hingga teknik kerja perhotelan.
“Misalnya, pelatihan bed making dan budaya kerja hotel sudah diajarkan sejak awal, sehingga saat tiba di Jepang mereka tinggal mempraktikkannya,” tutupnya.


