Kamis, Maret 19, 2026
Beranda Bengkulu Mukomuko Mukomuko Surplus 20 Ribu Ton Beras per Tahun, Bukti Kuat Ketahanan Pangan

Mukomuko Surplus 20 Ribu Ton Beras per Tahun, Bukti Kuat Ketahanan Pangan

0
9

Mukomuko – Kabupaten Mukomuko mencatat pencapaian luar biasa di sektor pertanian dengan surplus beras tahunan mencapai 20 ribu ton. Capaian ini menunjukkan bahwa Mukomuko tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan beras lokal, tetapi juga berkontribusi dalam distribusi pangan ke luar daerah, termasuk di luar Provinsi Bengkulu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mukomuko, Elxsandi Ultria Dharma, S.TP, M.Ec, D.Ev, menyebutkan bahwa produksi beras di Mukomuko jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.

“Setiap tahun, petani kami memproduksi 65.414 ton gabah kering panen (GKP), yang setelah digiling menjadi sekitar 40 ribu ton beras. Sementara konsumsi beras masyarakat hanya sekitar 20 ribu ton per tahun. Artinya, kami memiliki surplus 20 ribu ton,” kata Elxsandi, Kamis (12/6).

Menurutnya, surplus ini tidak hanya mencerminkan tingginya produktivitas pertanian, tetapi juga membuka peluang besar bagi Mukomuko untuk menjadi daerah penyuplai beras ke wilayah lain.

“Kabupaten Mukomuko sudah swasembada beras. Bahkan, kami mampu menyuplai ke daerah lain yang membutuhkan. Ini peluang strategis bagi ketahanan pangan regional,” ujarnya.

Meski begitu, Elxsandi mengingatkan masih ada tantangan yang perlu diatasi, seperti fluktuasi harga beras dan infrastruktur pascapanen yang belum merata.

“Stabilitas harga harus dijaga agar petani tetap untung. Kami juga harus memperkuat distribusi dan infrastruktur penyimpanan agar tidak ada pemborosan,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah serta menjamin pendapatan yang lebih baik bagi petani.

Dalam rangka menjaga keberlanjutan produksi, Dinas Ketahanan Pangan telah menyusun sejumlah langkah strategis, termasuk penguatan kelembagaan petani dan kemitraan dengan sektor swasta.

“Kunci keberhasilan ini adalah sinergi antara pemerintah, petani, dan masyarakat. Dengan kerja sama yang solid, kita bisa terus menjaga surplus dan menjadikan pertanian sebagai penopang utama ekonomi daerah,” tutup Elxsandi.

[wpforms id="149" title="true" description="true"]