Mukomuko – Angka stunting di Kabupaten Mukomuko turun menjadi 3,36 persen pada 2026, dibandingkan 4,52 persen pada 2025. Pemerintah Kabupaten Mukomuko melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memperkuat upaya pencegahan melalui pemantauan pertumbuhan balita, pemenuhan gizi dan pemberian makanan tambahan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko, Jajat Sudrajat, SKM, mengatakan penurunan sebesar 1,16 poin persentase tersebut menjadi perkembangan positif. Meski demikian, upaya pencegahan tetap harus dilakukan agar angka stunting tidak kembali meningkat.
“Alhamdulillah, tahun ini angkanya turun dari 4,52 persen menjadi 3,36 persen. Ini tentu perkembangan yang baik. Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di sini. Upaya pencegahan harus terus berjalan agar angkanya semakin turun dan tidak kembali meningkat,” ujar Jajat, Jumat (30/10/2026).
Sepanjang 2026, Dinkes Mukomuko telah melakukan pemeriksaan pertumbuhan terhadap 10.854 balita. Pemeriksaan meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan secara berkala untuk mendeteksi lebih awal apabila ditemukan gangguan pertumbuhan.
Jajat mengatakan, posyandu menjadi salah satu ujung tombak pemantauan tumbuh kembang anak. Karena itu, orang tua diminta rutin membawa balita ke posyandu agar petugas kesehatan dapat segera memberikan pemeriksaan dan pendampingan jika ditemukan masalah pertumbuhan.
“Kalau anak rutin dibawa ke posyandu, perkembangan berat dan tinggi badannya bisa terus kita pantau. Ketika ditemukan ada masalah pertumbuhan, petugas bisa lebih cepat memberikan pendampingan. Jangan menunggu kondisi anak sudah bermasalah baru diperiksa,” jelasnya.
Selain pemeriksaan rutin, Dinkes Mukomuko juga memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya makanan bergizi dan pola pengasuhan yang baik. Program ini melibatkan berbagai pihak hingga tingkat desa, mengingat keluarga memiliki peran utama dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sehari-hari.
Dinkes juga menjalankan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi balita yang mengalami masalah gizi, seperti berat badan tidak bertambah maupun kondisi tubuh terlalu kurus. Pemberian makanan tambahan disertai pendampingan dan edukasi kepada orang tua agar pemenuhan gizi anak tetap berlanjut di rumah.
“Kalau dari hasil pemeriksaan ditemukan balita yang mengalami masalah gizi, tentu kita tindak lanjuti. Ada pendampingan dan pemberian makanan tambahan sesuai kebutuhan anak. Orang tua juga kita berikan pemahaman agar pemenuhan gizinya tetap dilanjutkan di rumah,” kata Jajat.
Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga. Orang tua diharapkan memperhatikan asupan makanan bergizi serta rutin memeriksakan pertumbuhan anak.
“Pemerintah menyiapkan program dan petugas melakukan pendampingan, tetapi anak lebih banyak bersama keluarganya. Karena itu, peran orang tua sangat penting, mulai dari memberikan makanan bergizi hingga rutin membawa anak memeriksakan pertumbuhannya,” ungkapnya.
Dengan capaian stunting sebesar 3,36 persen, Dinkes Mukomuko berharap tren penurunan terus berlanjut melalui penguatan pemantauan balita, pemenuhan gizi dan keterlibatan masyarakat. Target akhirnya, semakin banyak anak di Kabupaten Mukomuko tumbuh sehat dan berkembang optimal hingga terwujud daerah bebas stunting.

Berita Terbaru
Stafsus Menag Tegaskan Ponpes Hamalatul Qur’an Sukoharjo Belum Berizin, Dukung Penegakan Hukum Transparan
Senator Destita Minta OJK Perkuat Pengawasan Jasa Keuangan, Cegah Pinjol hingga Investasi Ilegal
Gus Kikin Ajak Masyarakat Jaga Sukoharjo Tetap Kondusif dan Tak Terprovokasi
43.983 Pelaku Usaha di Bengkulu Manfaatkan KUR, Penyaluran Capai Rp3,76 Triliun
Pererat Toleransi Umat Beragama, Kapolda Bengkulu Gelar Minggu Kasih di Gereja HKI Kota Bengkulu
BAZNAS Bengkulu Salurkan Rp60 Juta untuk Korban Kebakaran Ujan Mas, Ketua Langsung Bayar Bahan Bangunan