Kepahiang – Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, mendorong pelestarian tradisi lokal melalui Festival Berendo Budayo 2026, salah satunya dengan memperkenalkan tradisi mbin cupik mai bioa yang merupakan prosesi memandikan bayi berusia 40 hari. Tradisi masyarakat suku Rejang tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi penerus.

Festival yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu secara serentak di seluruh wilayah provinsi itu berlangsung di pelataran Kantor Bupati Kepahiang, Jumat (16/10/2026). Mengusung tema “Merawat Budaya, Menjaga Identitas Kepahiang”, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan tradisi dan kesenian daerah di tengah perkembangan teknologi dan arus modernisasi.

Bupati Kepahiang, H. Zurdi Nata, S.IP., menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut. Ia mengatakan, Kepahiang memiliki beragam tradisi dan kesenian yang harus dijaga keberlangsungannya, termasuk mbin cupik mai bioa yang mengandung makna ungkapan syukur sekaligus doa untuk keselamatan bayi.

“Tradisi ini harus tetap dijaga agar tidak hilang. Oleh karena itu, mbin cupik mai bioa telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda agar dapat terus diwariskan kepada anak cucu kita,” kata Zurdi Nata.

Baca Juga:  Wabup Kepahiang Apresiasi Lomba Daur Ulang Plastik dan Senam Lansia

Menurutnya, pelestarian budaya menghadapi tantangan di tengah kemudahan akses informasi yang membuat generasi muda semakin dekat dengan media sosial dan budaya populer. Karena itu, pelestarian adat Rejang perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi agar tradisi daerah tetap relevan dan dapat dikenal lebih luas.

“Dengan adanya pagelaran ini, anak-anak yang biasa bermain media sosial seperti TikTok juga bisa menjadikannya sebagai konten, sehingga budaya Kabupaten Kepahiang dapat dikenal lebih luas,” ujarnya.

Festival Berendo Budayo 2026 juga diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari teater tradisi mbin cupik mai bioa, demonstrasi pembuatan bokoa ibeun atau tempat sirih khas suku Rejang, penampilan kesenian dari berbagai sanggar, tradisi ngidang, hingga pameran kuliner. Berbagai kegiatan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat dan pelaku seni untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada pengunjung.

Zurdi Nata berharap Festival Berendo Budayo dapat digelar secara rutin setiap tahun sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkuat identitas masyarakat Kepahiang. Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan semakin mengenal dan mencintai budaya daerah serta turut mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:  KSP Testimoni Panen di Perkebunan Kopi Kepahiang